Organisasi nirlaba juga membutuhkan model bisnis, meskipun tujuan utamanya bukan keuntungan. Keberlanjutan program sangat bergantung pada kemampuan organisasi menciptakan nilai dan memperoleh dana.

Penyesuaian Blok untuk Nirlaba

Dalam konteks nirlaba, sering terdapat dua jenis “pelanggan”:

  • Penerima manfaat: masyarakat yang dilayani oleh program.
  • Pemberi dana: donatur, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial, pemerintah, atau lembaga internasional.

Keduanya perlu dipetakan dengan proposisi nilai masing-masing.

Value Propositions

Bagi penerima manfaat: layanan pendidikan, kesehatan, atau pemberdayaan ekonomi. Bagi pemberi dana: dampak sosial yang terukur, transparansi, dan akuntabilitas.

Revenue Streams

Hibah, donasi, dana tanggung jawab sosial perusahaan, wakaf, dana abadi, serta pendapatan dari unit usaha sosial.

Key Activities dan Resources

Pelaksanaan program, penggalangan dana, pelaporan dampak, dan pengelolaan relawan. Sumber daya utama mencakup legalitas, tenaga program, relawan, kepercayaan publik, dan aset yang dikelola.

Key Partnerships

Pemerintah daerah, lembaga mitra pelaksana, perusahaan, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi.

Cost Structure

Biaya program, gaji staf, operasional kantor, pelaporan, dan audit.

Menambahkan Dimensi Dampak

Banyak praktisi menambahkan blok “dampak sosial” atau “indikator keberhasilan” untuk memastikan organisasi tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan.

Penutup

Dengan BMC, yayasan dapat melihat ketergantungan pada satu sumber dana, merancang diversifikasi pendapatan, dan menyusun narasi yang meyakinkan bagi para pemberi dana.

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts