Sebelum menyusun dokumen apa pun, rumah sakit perlu tahu posisinya terhadap standar. Self assessment atau penilaian mandiri adalah cara mengukur jarak itu. Hasilnya menjadi dasar rencana kerja, prioritas anggaran, dan target status yang realistis.

Mengapa self assessment sering gagal?

Banyak self assessment berakhir sebagai angka persentase yang terlalu optimistis. Penyebabnya klasik: penilai menilai unitnya sendiri, ukuran “terpenuhi” tidak jelas, dan bukti tidak benar-benar diperiksa. Hasilnya, rumah sakit merasa siap padahal masih banyak celah yang baru terlihat saat survei.

Langkah melakukan self assessment yang jujur

  1. Gunakan instrumen resmi. Pakai elemen penilaian STARKES 1596/2024 beserta daftar kelengkapan buktinya sebagai acuan, bukan checklist buatan sendiri.
  2. Terapkan skala yang sama dengan surveior. Nilai tiap EP sebagai terpenuhi penuh, terpenuhi sebagian, atau tidak terpenuhi, dengan kriteria tertulis.
  3. Periksa bukti, bukan pengakuan. Untuk EP yang menuntut dokumen, buka dokumennya. Untuk EP observasi, lihat langsung ke unit. Untuk EP wawancara, tanyakan kepada staf pelaksana.
  4. Silangkan penilai. Pokja A menilai bab milik pokja B. Cara sederhana ini menekan bias.
  5. Catat alasan nilai. Setiap nilai di bawah penuh harus disertai catatan apa yang kurang.

Dari nilai ke gap analysis

Setelah semua EP dinilai, susun gap analysis yang menjawab tiga pertanyaan: apa yang kurang, mengapa kurang, dan apa yang diperlukan untuk menutupnya. Kesenjangan biasanya jatuh ke salah satu kategori berikut:

Kategori kesenjangan Contoh Jenis solusi
Regulasi belum ada atau usang Panduan manajemen risiko belum disusun Susun/revisi dokumen
Regulasi ada, belum dijalankan SPO serah terima pasien ada, tetapi tidak dipakai Sosialisasi, supervisi
Dijalankan, bukti tidak terekam Briefing keselamatan rutin tanpa daftar hadir Format pencatatan
Kompetensi kurang Staf belum pelatihan APAR atau BHD Pelatihan
Sarana belum memenuhi Ruang isolasi tekanan negatif belum ada Investasi, solusi alternatif

Kategori ini penting karena solusi dan biayanya sangat berbeda. Kesenjangan dokumen bisa ditutup dalam minggu, sedangkan kesenjangan sarana mungkin butuh anggaran dan waktu berbulan-bulan.

Menetapkan prioritas

Tidak semua kesenjangan bisa ditutup sekaligus. Prioritaskan dengan tiga kriteria:

  1. Dampak keselamatan pasien. Kesenjangan pada Sasaran Keselamatan Pasien, PPI, dan obat berisiko tinggi didahulukan.
  2. Bobot terhadap kelulusan. Bab yang menentukan status kelulusan perlu perhatian lebih.
  3. Waktu dan biaya penyelesaian. Kesenjangan yang butuh investasi besar harus diputuskan paling awal.

Hasil yang harus dimiliki

Self assessment yang baik menghasilkan tiga dokumen: rekap nilai per bab, daftar kesenjangan lengkap dengan kategori, dan rencana kerja dengan penanggung jawab serta tenggat. Ketiganya dilaporkan ke direksi untuk diputuskan, termasuk kebutuhan anggaran.

Ulangi secara berkala

Self assessment bukan kegiatan sekali. Lakukan ulang setiap tiga bulan untuk mengukur kemajuan. Grafik peningkatan pemenuhan per bab memberi motivasi bagi tim dan gambaran jelas bagi direksi tentang kesiapan menghadapi survei.

Butuh penilai independen untuk gap analysis yang objektif? PT Ligar Mandiri Indonesia siap membantu. Hubungi 085716000879 · indonesialigarmandiri@gmail.com · www.ligarmandiriconsulting.com

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts