Rumah sakit yang gagal atau mendapat status di bawah target jarang gagal karena satu masalah besar. Lebih sering, kegagalan adalah akumulasi kesalahan kecil yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Berikut sepuluh kesalahan yang paling sering kami jumpai di lapangan, beserta cara menghindarinya.
1. Mulai terlalu dekat dengan jadwal survei
Persiapan tiga bulan tidak cukup untuk membangun rekam jejak. Mulailah minimal 12 bulan sebelum survei untuk akreditasi perdana, dan jaga mutu terus-menerus untuk reakreditasi.
2. Pimpinan tidak terlibat
Akreditasi diserahkan ke tim mutu tanpa dukungan nyata direksi. Akibatnya, unit tidak bergerak dan anggaran tidak tersedia. Direktur harus memimpin rapat mutu dan memutus hambatan lintas unit.
3. Menyalin dokumen RS lain
SPO hasil salinan tidak sesuai dengan sarana dan alur RS sendiri. Surveior mudah mengenalinya, dan staf tidak bisa menjelaskannya saat wawancara.
4. Fokus pada dokumen, lupa implementasi
Map tebal tidak menjamin kelulusan. Elemen observasi dan wawancara menuntut praktik yang benar-benar berjalan di unit.
5. Rekam jejak dibuat mendadak
Notulen, audit, dan laporan disusun sekaligus menjelang survei. Pola ini mudah terdeteksi dan merusak kredibilitas rumah sakit di mata surveior.
6. Data mutu tanpa analisis dan tindak lanjut
Indikator dikumpulkan dan dilaporkan, tetapi tidak pernah dianalisis atau ditindaklanjuti. Surveior menilai siklus perbaikan, bukan sekadar grafik.
7. Rekam medis tidak lengkap
Asesmen awal terlambat, catatan perkembangan pasien terintegrasi tidak diisi, resume medis kosong, informed consent tidak lengkap. Rekam medis adalah sumber bukti utama telusur pasien, sehingga kelemahan di sini berdampak ke banyak bab.
8. Staf tidak siap diwawancarai
Staf bekerja dengan benar tetapi tidak mampu menjelaskan, atau sebaliknya hafal teori tetapi tidak menjalankannya. Latih staf dengan simulasi wawancara secara rutin, termasuk staf shift malam.
9. Fasilitas dan alat terabaikan
Alat medis tanpa label kalibrasi, APAR kedaluwarsa, jalur evakuasi terhalang, atau B3 tanpa label adalah temuan yang mudah terlihat dan mudah dicegah.
10. Tidak ada simulasi survei
Rumah sakit merasa siap tanpa pernah diuji. Simulasi dengan penilai objektif 2–3 bulan sebelum survei adalah cara paling efektif menemukan celah tersembunyi.
Satu benang merah
Sepuluh kesalahan di atas berakar pada hal yang sama: memandang akreditasi sebagai proyek dokumen jangka pendek, bukan sistem mutu jangka panjang. Rumah sakit yang mengubah cara pandang ini biasanya tidak hanya lulus, tetapi juga mempertahankan statusnya dengan lebih ringan pada siklus berikutnya.
Checklist cepat untuk direksi
- ☐ SK tim akreditasi dan target status sudah terbit
- ☐ Self assessment terbaru tersedia dan dilaporkan
- ☐ Rencana kerja dengan PIC dan tenggat dipantau bulanan
- ☐ Regulasi utama sudah direvisi sesuai STARKES 1596/2024
- ☐ Data INM dianalisis dan ditindaklanjuti setiap bulan
- ☐ Audit rekam medis berjalan rutin
- ☐ Inventaris dan kalibrasi alat medis mutakhir
- ☐ Simulasi survei sudah dijadwalkan
PT Ligar Mandiri Indonesia membantu RS mengenali dan menutup celah sebelum survei. Hubungi 085716000879 · indonesialigarmandiri@gmail.com · www.ligarmandiriconsulting.com