BMC menjelaskan bagaimana bisnis bekerja. Agar dapat dikelola, setiap blok perlu memiliki ukuran kinerja. Di sinilah KPI dan Balanced Scorecard berperan.
Mengapa Perlu KPI untuk BMC?
Tanpa ukuran, sulit mengetahui apakah model bisnis berjalan sesuai rencana. KPI mengubah asumsi di kanvas menjadi target yang dapat dipantau.
Contoh KPI per Blok
- Customer Segments: jumlah pelanggan aktif, pangsa pasar.
- Value Propositions: kepuasan pelanggan, tingkat keluhan.
- Channels: tingkat konversi, biaya per akuisisi.
- Customer Relationships: retensi, pembelian ulang, Net Promoter Score.
- Revenue Streams: pertumbuhan pendapatan, pendapatan per pelanggan.
- Key Resources: utilisasi aset, kompetensi SDM.
- Key Activities: produktivitas, waktu proses, tingkat kesalahan.
- Key Partnerships: ketepatan waktu pemasok, kinerja mitra.
- Cost Structure: biaya per unit, rasio biaya terhadap pendapatan.
Menghubungkan dengan Balanced Scorecard
Balanced Scorecard menilai kinerja dari empat perspektif. Blok BMC dapat dipetakan sebagai berikut:
- Perspektif keuangan: Revenue Streams dan Cost Structure.
- Perspektif pelanggan: Customer Segments, Value Propositions, Channels, Customer Relationships.
- Perspektif proses bisnis internal: Key Activities dan Key Partnerships.
- Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan: Key Resources, terutama SDM, sistem, dan budaya organisasi.
Langkah Implementasi
- Pilih maksimal 2–3 KPI per blok yang paling penting.
- Tetapkan target dan penanggung jawab.
- Tentukan frekuensi pengukuran.
- Sajikan dalam dasbor sederhana.
- Tinjau secara berkala dan perbarui BMC bila hasil menyimpang jauh.
Penutup
Menghubungkan BMC dengan KPI dan Balanced Scorecard membuat strategi tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dijalankan dan diukur.