“Berapa pasien sehari supaya klinik tidak rugi?” Pertanyaan ini hampir selalu muncul dari pemilik klinik, baik yang baru akan membuka usaha maupun yang sudah berjalan. Jawabannya bisa dihitung dengan analisis titik impas atau break even point (BEP).

Konsep dasar

Titik impas adalah kondisi ketika total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga klinik tidak untung dan tidak rugi. Untuk menghitungnya, biaya klinik dibagi menjadi dua:

  • Biaya tetap — tidak berubah meskipun jumlah pasien naik atau turun dalam rentang tertentu: gaji tetap, sewa, listrik dasar, internet, penyusutan alat, dan biaya administrasi.
  • Biaya variabel — bergerak sesuai jumlah pasien: obat, BMHP, reagen, dan jasa medis yang dibayar per pasien.

Selisih antara pendapatan per pasien dan biaya variabel per pasien disebut margin kontribusi. Margin inilah yang dipakai untuk menutup biaya tetap.

BEP (jumlah kunjungan) = Biaya tetap ÷ Margin kontribusi per kunjungan

Contoh perhitungan

Sebuah klinik pratama memiliki data bulanan sebagai berikut:

Komponen Nilai
Biaya tetap per bulan Rp150.000.000
Rata-rata pendapatan per kunjungan Rp150.000
Rata-rata biaya variabel per kunjungan Rp60.000
Margin kontribusi per kunjungan Rp90.000

BEP = Rp150.000.000 ÷ Rp90.000 = sekitar 1.667 kunjungan per bulan. Dengan 26 hari operasional, klinik membutuhkan rata-rata 64 kunjungan per hari agar impas. Dalam rupiah, titik impasnya adalah sekitar Rp250 juta pendapatan per bulan.

Jika saat ini klinik hanya melayani 50 kunjungan per hari, ada kekurangan 14 pasien per hari yang harus ditutup, entah dengan menambah kunjungan, menaikkan pendapatan per kunjungan, atau menurunkan biaya.

Tiga tuas untuk menurunkan BEP

  1. Naikkan margin kontribusi. Tambahkan layanan bernilai lebih tinggi per kunjungan, seperti pemeriksaan laboratorium yang memang diperlukan, atau tinjau tarif yang selama ini terlalu rendah. Negosiasikan harga obat dan BMHP agar biaya variabel turun.
  2. Tekan biaya tetap. Tinjau ulang jumlah staf terhadap volume layanan, renegosiasi sewa, dan hemat energi. Setiap penurunan biaya tetap Rp9 juta per bulan dalam contoh di atas mengurangi kebutuhan sekitar 100 kunjungan per bulan.
  3. Perbaiki bauran layanan. Layanan dengan margin kontribusi tinggi, misalnya poli gigi atau pemeriksaan kesehatan berkala, menurunkan BEP lebih cepat daripada layanan bermargin tipis.

BEP per unit layanan

BEP klinik secara keseluruhan bisa menyembunyikan masalah di unit tertentu. Hitung juga BEP per poli atau per layanan. Bisa jadi poli umum sudah impas, tetapi poli spesialis yang baru dibuka masih jauh dari titik impas. Informasi ini membantu pemilik memutuskan apakah suatu layanan perlu promosi tambahan, perubahan jadwal dokter, atau bahkan ditutup.

Gunakan untuk klinik baru

Bagi calon pemilik klinik, analisis BEP adalah alat uji realisme rencana usaha. Jika BEP menuntut 80 kunjungan per hari sementara potensi pasar di sekitar lokasi hanya mendukung 40, rencana perlu diubah: lokasi, skala, atau jenis layanan. Lebih baik menemukan masalah ini di atas kertas daripada setelah investasi dikeluarkan.

Keterbatasan BEP

Analisis BEP mengasumsikan tarif dan biaya variabel per pasien stabil, dan biaya tetap tidak berubah. Dalam kenyataan, biaya tetap bisa melompat saat klinik menambah dokter atau ruang praktik. Karena itu, perbarui perhitungan setiap kali ada perubahan besar pada struktur biaya atau tarif.

Penutup

BEP mengubah pertanyaan “apakah klinik saya akan untung?” menjadi angka yang jelas dan bisa dipantau setiap hari: jumlah pasien minimal. Dengan memahami tiga tuasnya, pemilik klinik tahu persis apa yang harus dilakukan ketika jumlah pasien belum mencapai titik impas.

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts