Dalam pengembangan rumah sakit, istilah Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan Master Plan Rumah Sakit sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya memiliki ruang lingkup yang berbeda, meskipun sangat erat kaitannya.
Pertanyaannya, apakah Master Plan dapat menjadi bagian dari Rencana Induk Pengembangan Rumah Sakit?
Jawabannya: bisa. Bahkan, Master Plan sebaiknya menjadi bagian yang terintegrasi dalam Rencana Induk Pengembangan rumah sakit, terutama apabila RIP tersebut digunakan sebagai pedoman pengembangan rumah sakit dalam jangka menengah dan panjang.
RIP Rumah Sakit Bukan Sekadar Rencana Bangunan
Rencana Induk Pengembangan Rumah Sakit pada dasarnya merupakan dokumen yang menggambarkan arah pengembangan rumah sakit secara menyeluruh.
Artinya, RIP tidak hanya berbicara mengenai pembangunan gedung baru atau penambahan tempat tidur. RIP harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
Rumah sakit ini akan dikembangkan menjadi apa dalam 5, 10, bahkan 15 tahun ke depan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan analisis terhadap kondisi rumah sakit saat ini, kebutuhan pelayanan kesehatan, perkembangan demografi, regulasi, persaingan, kemampuan SDM, teknologi, kondisi keuangan, serta kebutuhan masyarakat.
Dari analisis tersebut kemudian ditentukan arah pengembangan pelayanan, organisasi, SDM, teknologi, investasi, keuangan, hingga pengembangan fisik rumah sakit.
Lalu, Di Mana Posisi Master Plan?
Di sinilah Master Plan memiliki peran penting.
Jika RIP menjelaskan arah dan strategi pengembangan, maka Master Plan menerjemahkan arah tersebut ke dalam rencana pengembangan fisik rumah sakit.
Misalnya, sebuah rumah sakit saat ini memiliki 100 tempat tidur dan dalam 10 tahun direncanakan berkembang menjadi 250 tempat tidur.
RIP akan menjelaskan mengapa kapasitas tersebut diperlukan, layanan apa yang akan dikembangkan, bagaimana proyeksi kebutuhan pasien, bagaimana strategi bisnisnya, berapa kebutuhan SDM, berapa investasi yang diperlukan, dan bagaimana kemampuan keuangannya.
Sementara Master Plan akan menerjemahkan rencana tersebut ke dalam aspek fisik.
Misalnya:
– Di mana gedung baru akan dibangun?
– Bagaimana pembagian zona rumah sakit?
– Bagaimana hubungan antara IGD, rawat jalan, rawat inap, kamar operasi, ICU, laboratorium, radiologi, farmasi dan unit lainnya?
– Bagaimana alur pasien, tenaga kesehatan, barang dan limbah?
– Bagaimana akses ambulans?
– Bagaimana kebutuhan parkir?
– Bagaimana pengembangan utilitas?
– Bagaimana tahapan pembangunan gedung?
– Apakah lahan yang tersedia cukup untuk pengembangan 10–15 tahun?
Dengan demikian, Master Plan bukan berdiri sendiri, tetapi merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan arah pengembangan yang ditetapkan dalam RIP.
Hubungan RIP dan Master Plan
Secara sederhana, hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai berikut:
RIP Rumah Sakit
↓
Visi dan Arah Pengembangan
↓
Strategi Pelayanan & Bisnis
↓
Proyeksi Kebutuhan
↓
Master Plan Fisik
↓
Tahapan Pengembangan
↓
Investasi & Implementasi
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan rumah sakit tidak dilakukan berdasarkan kebutuhan sesaat.
Pembangunan gedung, penambahan layanan, pembelian alat kesehatan, maupun pengembangan fasilitas harus memiliki hubungan dengan arah pengembangan rumah sakit secara keseluruhan.
Apa yang Sebaiknya Ada dalam RIP?
RIP yang baik idealnya tidak berhenti pada analisis kondisi eksisting dan rekomendasi umum.
Dokumen tersebut setidaknya perlu menghubungkan beberapa aspek utama.
Pertama, analisis kondisi eksisting, meliputi pelayanan, SDM, sarana-prasarana, organisasi, keuangan, teknologi, serta kondisi lingkungan eksternal.
Kedua, arah dan strategi pengembangan pelayanan, termasuk layanan unggulan, segmentasi pasien, pengembangan kapasitas, dan positioning rumah sakit.
Ketiga, rencana pengembangan SDM dan organisasi, karena pengembangan gedung tanpa kesiapan SDM dapat menyebabkan fasilitas tidak produktif.
Keempat, rencana pengembangan teknologi dan digitalisasi, termasuk SIMRS dan kebutuhan teknologi medis.
Kelima, rencana pengembangan fisik atau Master Plan, yang menerjemahkan strategi pelayanan ke dalam kebutuhan ruang dan fasilitas.
Keenam, rencana investasi dan keuangan, sehingga setiap tahapan pembangunan memiliki dasar kelayakan dan kemampuan pendanaan.
Ketujuh, roadmap implementasi, yang menjelaskan apa yang dilakukan pada tahap pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.
Jangan Sampai Master Plan Tidak Sesuai dengan Strategi Bisnis
Salah satu persoalan yang sering terjadi dalam pengembangan rumah sakit adalah Master Plan dibuat lebih dahulu tanpa didukung oleh arah bisnis dan pelayanan yang jelas.
Akibatnya, rumah sakit memiliki bangunan yang bagus tetapi utilisasinya rendah.
Contohnya, rumah sakit membangun gedung rawat inap tambahan, tetapi pertumbuhan pasien tidak sesuai proyeksi.
Atau rumah sakit membangun ruang pelayanan tertentu, tetapi ternyata layanan tersebut tidak menjadi bagian dari strategi unggulan rumah sakit.
Dalam kondisi seperti ini, investasi fisik dapat menjadi beban bagi rumah sakit.
Karena itu, prinsip yang penting adalah:
“Build based on strategy, not strategy based on building.”
Artinya, pembangunan fisik seharusnya mengikuti strategi pengembangan rumah sakit, bukan sebaliknya.
Master Plan Harus Mengikuti Tahapan Pengembangan
Master Plan juga tidak seharusnya hanya berupa gambar site plan.
Master Plan yang baik perlu menjawab kapan fasilitas tersebut dibangun dan mengapa dibangun pada tahap tersebut.
Misalnya:
Tahap 1: optimalisasi fasilitas eksisting dan peningkatan layanan prioritas.
Tahap 2: pengembangan kapasitas rawat inap dan layanan penunjang.
Tahap 3: pengembangan layanan unggulan dan fasilitas khusus.
Tahap 4: ekspansi kapasitas sesuai pertumbuhan demand.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan dapat disesuaikan dengan pertumbuhan pasien, kemampuan keuangan, kebutuhan pelayanan, dan prioritas strategis rumah sakit.
RIP dan Master Plan Harus Terhubung dengan Financial Plan
Hal lain yang sering terlupakan adalah hubungan antara Master Plan dengan aspek keuangan.
Setiap pengembangan fisik membutuhkan investasi.
Karena itu, ketika RIP menetapkan rencana pembangunan gedung baru, maka harus dapat diteruskan menjadi:
Kebutuhan fasilitas → kebutuhan CAPEX → sumber pendanaan → proyeksi revenue → proyeksi biaya → cash flow → kelayakan investasi.
Dengan demikian, rumah sakit tidak hanya mengetahui apa yang ingin dibangun, tetapi juga mengetahui berapa investasinya dan bagaimana investasi tersebut akan dibiayai serta memberikan manfaat bagi rumah sakit.
Jadi, Apakah RIP Sudah Termasuk Master Plan?
Jawabannya bergantung pada desain pekerjaan dan ruang lingkup dokumennya.
Secara konsep, Master Plan dapat menjadi bagian dari RIP.
Namun, apabila kebutuhan rumah sakit membutuhkan kajian arsitektur dan engineering yang lebih detail, maka Master Plan dapat dibuat sebagai dokumen teknis tersendiri yang menjadi turunan dari RIP.
Yang paling penting bukan persoalan apakah keduanya berada dalam satu dokumen atau dua dokumen.
Yang lebih penting adalah konsistensi antara keduanya.
RIP harus menjelaskan arah pengembangan.
Master Plan harus menerjemahkan arah tersebut secara fisik.
Financial Plan harus memastikan pengembangannya layak dan dapat dibiayai.
Roadmap harus menjelaskan kapan dan bagaimana semuanya dilaksanakan.
Penutup
Rumah sakit bukan sekadar bangunan.
Rumah sakit adalah sebuah sistem yang terdiri dari pelayanan, SDM, teknologi, proses, organisasi, keuangan, dan fasilitas fisik.
Karena itu, pengembangan rumah sakit juga tidak cukup hanya dengan membuat gambar Master Plan.
Diperlukan sebuah Rencana Induk Pengembangan yang mampu mengintegrasikan aspek pelayanan, bisnis, organisasi, SDM, teknologi, fisik, investasi, dan keuangan.
Dalam konteks tersebut, Master Plan menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa arah strategis rumah sakit benar-benar diterjemahkan menjadi pengembangan fisik yang terencana, bertahap, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan dalam menyusun RIP bukan hanya:
“Gedung apa yang akan kita bangun?”
Tetapi lebih jauh:
“Rumah sakit seperti apa yang ingin kita bangun, untuk siapa, dengan strategi apa, berapa investasinya, dan bagaimana pengembangannya dilakukan secara bertahap?”
Itulah alasan mengapa RIP dan Master Plan sebaiknya tidak dipandang sebagai dua dokumen yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari satu kesatuan perencanaan pengembangan rumah sakit.