Dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan (RIP) Rumah Sakit, sering muncul pertanyaan: apakah Feasibility Study (FS) harus dibuat sebagai dokumen yang terpisah, atau dapat menjadi bagian dari RIP?
Jawabannya adalah Feasibility Study dapat diintegrasikan dalam RIP, sepanjang ruang lingkup RIP memang dirancang untuk mencakup kajian kelayakan atas rencana pengembangan rumah sakit.
Namun, perlu dipahami bahwa RIP dan FS memiliki fungsi yang berbeda.
RIP menjawab: rumah sakit akan dikembangkan ke arah mana dan bagaimana tahapannya.
Sedangkan FS menjawab: apakah rencana pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan.
Karena itu, keduanya justru akan menjadi lebih kuat apabila saling terintegrasi.
RIP Bukan Sekadar Dokumen Rencana
Rencana Induk Pengembangan Rumah Sakit merupakan dokumen yang menggambarkan arah pengembangan rumah sakit dalam jangka menengah dan panjang.
RIP dapat mencakup pengembangan:
– pelayanan;
– kapasitas tempat tidur;
– SDM;
– organisasi;
– teknologi;
– sarana dan prasarana;
– Master Plan;
– investasi;
– keuangan;
– serta tahapan implementasi.
Misalnya, sebuah rumah sakit memiliki kapasitas 100 tempat tidur dan ingin berkembang menjadi 200 tempat tidur dalam lima tahun.
RIP akan menjelaskan alasan dan strategi pengembangan tersebut.
Tetapi muncul pertanyaan penting:
Apakah penambahan 100 tempat tidur tersebut benar-benar dibutuhkan dan layak secara bisnis serta finansial?
Di sinilah Feasibility Study diperlukan.
Apa Peran Feasibility Study dalam RIP?
FS memberikan dasar analitis terhadap keputusan investasi dan pengembangan.
Kajian tersebut dapat melihat beberapa aspek, seperti:
Market feasibility
Apakah terdapat kebutuhan pasar terhadap layanan yang akan dikembangkan?
Technical feasibility
Apakah lahan, bangunan, teknologi, utilitas, dan sumber daya lainnya mendukung?
Operational feasibility
Apakah rumah sakit memiliki kemampuan untuk mengoperasikan layanan yang direncanakan?
Human resources feasibility
Apakah kebutuhan dokter, perawat, tenaga kesehatan dan tenaga pendukung dapat dipenuhi?
Financial feasibility
Apakah investasi tersebut menghasilkan manfaat finansial yang memadai?
Legal and regulatory feasibility
Apakah rencana pengembangan dapat memenuhi ketentuan perizinan dan regulasi yang berlaku?
Dengan demikian, FS membantu menjawab apakah suatu rencana dalam RIP layak untuk dilaksanakan, perlu disesuaikan, ditunda, atau dikembangkan secara bertahap.
Hubungan RIP dan FS
Hubungannya dapat digambarkan sederhana:
RIP
↓
Menentukan arah pengembangan
↓
Program Pengembangan
↓
Feasibility Study
↓
Menilai kelayakan
↓
Prioritas Investasi
↓
Master Plan & Roadmap
↓
Implementasi
Namun, dalam praktiknya hubungan tersebut dapat bersifat dua arah.
Hasil FS juga dapat menyebabkan RIP disesuaikan.
Misalnya, RIP awal merencanakan pembangunan gedung baru senilai Rp100 miliar.
Setelah dilakukan FS, ternyata proyeksi pasien belum mencukupi untuk mendukung investasi tersebut.
Maka rumah sakit dapat mengubah strategi:
Rp100 miliar sekaligus → pembangunan bertahap sesuai pertumbuhan demand.
Ini membuat RIP menjadi dokumen yang lebih realistis.
FS Tidak Harus Selalu Menjadi Dokumen Terpisah
Dalam praktik konsultansi, terdapat beberapa pendekatan.
Pendekatan pertama: RIP dan FS terintegrasi
RIP memuat bab khusus mengenai feasibility study.
Contohnya:
Bab 1 Pendahuluan
Bab 2 Profil dan Kondisi Eksisting
Bab 3 Analisis Lingkungan dan Pasar
Bab 4 Analisis Pelayanan
Bab 5 Rencana Pengembangan
Bab 6 Master Plan
Bab 7 Feasibility Study
Bab 8 Proyeksi Keuangan
Bab 9 Roadmap Implementasi
Pendekatan ini cocok apabila rumah sakit menginginkan satu dokumen perencanaan yang komprehensif.
Pendekatan kedua: FS sebagai dokumen pendukung RIP
RIP disusun sebagai dokumen utama.
Kemudian FS dibuat sebagai dokumen terpisah untuk setiap proyek investasi utama.
Contohnya:
RIP Rumah Sakit 2027–2037
kemudian terdapat:
FS Pengembangan Gedung Rawat Inap
FS Pengembangan Cath Lab
FS Pengembangan Layanan Hemodialisis
FS Pengembangan Rumah Sakit Baru
Dengan pendekatan ini, setiap investasi besar dapat diuji kelayakannya secara lebih detail.
Pendekatan ketiga: RIP + Master Plan + FS
Ini merupakan pendekatan yang sangat komprehensif.
Ketiga komponen memiliki fungsi yang berbeda:
RIP → arah pengembangan
Master Plan → bentuk dan tahapan pengembangan fisik
FS → kelayakan investasi
Kemudian ketiganya dihubungkan dengan:
Financial Plan → kemampuan dan dampak keuangan
serta:
Roadmap → tahapan implementasi.
Contoh Sederhana
Misalnya rumah sakit saat ini memiliki 100 tempat tidur.
Dalam RIP ditetapkan target:
Tahun 1–3: meningkatkan utilisasi fasilitas eksisting.
Tahun 4–6: menambah 50 tempat tidur.
Tahun 7–10: menambah 50 tempat tidur lagi.
Master Plan kemudian menentukan lokasi dan konsep pengembangan gedung.
FS kemudian menghitung:
– kebutuhan investasi;
– proyeksi pasien;
– proyeksi pendapatan;
– biaya operasional;
– cash flow;
– kebutuhan modal;
– Payback Period;
– NPV;
– IRR;
– dan indikator kelayakan lainnya.
Dari hasil tersebut, rumah sakit dapat mengetahui apakah pengembangan 100 tempat tidur tersebut layak dilakukan sekaligus atau harus bertahap.
Dengan demikian, keputusan pembangunan tidak hanya berdasarkan keinginan untuk memperbesar rumah sakit, tetapi berdasarkan data dan analisis kelayakan.
Jangan Sampai RIP Terlalu “Optimistis”
Salah satu risiko dalam penyusunan RIP adalah membuat target pengembangan yang terlalu optimistis.
Misalnya:
“Rumah sakit akan berkembang menjadi 300 tempat tidur dalam lima tahun.”
Pertanyaannya:
Apakah pasiennya tersedia?
Apakah SDM tersedia?
Apakah dokter spesialis tersedia?
Apakah BPJS dan pasien umum dapat mendukung revenue?
Apakah cash flow mampu membiayai operasional?
Apakah investasi gedung dan alat kesehatan dapat dibiayai?
Apakah rumah sakit mampu mencapai titik impas?
Tanpa FS, RIP berpotensi menjadi dokumen aspirasi.
Dengan FS, target pengembangan dapat diuji secara lebih objektif.
FS Membantu Menentukan Prioritas Investasi
FS juga dapat digunakan untuk menentukan mana program yang harus diprioritaskan.
Misalnya rumah sakit mempunyai lima rencana:
1. Gedung rawat inap baru;
2. Cath Lab;
3. Hemodialisis;
4. MRI;
5. Pusat layanan ibu dan anak.
Tidak semuanya harus dilaksanakan bersamaan.
Masing-masing dapat dianalisis berdasarkan:
kebutuhan pasar + kebutuhan pelayanan + investasi + risiko + kemampuan keuangan + potensi pendapatan.
Hasilnya kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan prioritas dalam RIP.
Dengan demikian, RIP bukan hanya menjawab “apa yang ingin dikembangkan?”, tetapi juga:
“mana yang harus dikembangkan terlebih dahulu?”
RIP, FS, dan Master Plan Harus Saling Mengunci
Perencanaan rumah sakit yang kuat seharusnya tidak membuat setiap dokumen berjalan sendiri-sendiri.
Idealnya:
RIP menentukan arah.
FS menguji kelayakan.
Master Plan menerjemahkan kebutuhan ke dalam pengembangan fisik.
Financial Plan menghitung kemampuan keuangan.
Roadmap menentukan tahapan pelaksanaan.
Kelima aspek tersebut kemudian menjadi satu kesatuan perencanaan.
Kesimpulan
Feasibility Study dapat menjadi bagian dari Rencana Induk Pengembangan Rumah Sakit.
Bahkan, mengintegrasikan FS ke dalam RIP dapat membuat perencanaan pengembangan menjadi lebih realistis karena setiap rencana investasi dapat diuji dari sisi kebutuhan, teknis, operasional, regulasi, pasar, dan finansial.
Namun, untuk proyek investasi besar, FS tetap dapat dibuat sebagai dokumen tersendiri yang menjadi dokumen pendukung RIP.
Yang terpenting bukan apakah FS berada dalam satu buku atau dibuat sebagai dokumen terpisah.
Yang paling penting adalah adanya hubungan yang jelas:
RIP menentukan arah → FS menguji kelayakan → Master Plan menerjemahkan kebutuhan fisik → Financial Plan memastikan kemampuan pendanaan → Roadmap mengatur pelaksanaan.
Dengan pendekatan tersebut, Rencana Induk Pengembangan Rumah Sakit tidak hanya menjadi dokumen perencanaan, tetapi menjadi alat pengambilan keputusan investasi dan pengembangan rumah sakit secara terukur, bertahap, dan berkelanjutan.