Di atas sebidang lahan kosong seluas lebih dari 15.000 meter persegi di sudut strategis Kota di Pekanbaru, sebuah harapan mulai dibangun. Bukan sekadar gedung atau fasilitas medis, tetapi harapan bagi masyarakat akan layanan kesehatan yang manusiawi, modern, dan merata. Di sinilah kisah Rumah Sakit X dimulai—dengan satu keputusan besar yang menjadi fondasi segalanya: investasi senilai lebih dari Rp 337 miliar.
Langkah pertama adalah memastikan tempat yang tepat. Investasi senilai Rp 115,89 miliar digunakan untuk membeli lahan seluas 15.481 meter persegi—lahan yang bukan hanya luas, tapi juga strategis. Lokasi ini dipilih dengan cermat, karena rumah sakit harus hadir di tempat yang mudah dijangkau, dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.
Namun, lahan saja tidak cukup. Untuk membangun sesuatu sebesar Rumah Sakit X, dibutuhkan perencanaan matang. Dengan Rp 2,8 miliar dialokasikan untuk jasa konsultansi, tim ahli menyusun studi kelayakan, merancang master plan, membuat desain teknis hingga menyiapkan sistem pengawasan konstruksi. Setiap detail diperhitungkan—karena kesalahan kecil dalam tahap awal bisa berujung besar di kemudian hari.
Fase paling krusial sekaligus paling kompleks adalah pembangunan fisik. Rumah Sakit X dirancang untuk memiliki 15.570 meter persegi luas bangunan, mampu menampung hingga 173 tempat tidur, dan disiapkan untuk menjadi rumah sakit rujukan di wilayahnya. Total anggaran untuk pembangunan ini mencapai Rp 139,83 miliar. Dari struktur bangunan, arsitektur, hingga pekerjaan khusus yang menyesuaikan dengan kebutuhan medis—semuanya dibangun dengan satu tujuan: menciptakan lingkungan penyembuhan yang nyaman dan berstandar tinggi.
Setelah bangunan berdiri, hal berikutnya yang tak kalah penting adalah melengkapi isi di dalamnya. Investasi sebesar Rp 60 miliar dialokasikan untuk pengadaan furniture dan peralatan kesehatan, dengan fokus utama pada alat medis senilai Rp 50 miliar. Mesin-mesin berteknologi tinggi, ruang operasi modern, hingga fasilitas diagnostik canggih akan menjadikan Rumah Sakit X bukan hanya megah secara fisik, tetapi juga mumpuni dalam layanan.
Namun semua infrastruktur ini tidak akan bergerak tanpa sistem dan manusia. Oleh karena itu, Rp 17 miliar disiapkan untuk manajemen proyek, pengurusan izin, hingga rekrutmen dan pelatihan sumber daya manusia. Dari perizinan operasional hingga simulasi layanan awal—semuanya dirancang agar rumah sakit ini siap melayani begitu hari pertama dibuka.
Sebagai pelengkap, fasilitas pendukung juga dipikirkan secara detail. Dana Rp 2,32 miliar dialokasikan untuk pengadaan kendaraan seperti mobil ambulans standar, mobil operasional, dan mobil jenazah. Rumah Sakit X tidak hanya hadir untuk yang datang berjalan kaki, tapi juga untuk yang datang dalam keadaan darurat, atau untuk yang dijemput dalam senyap.