Awal tahun ini, saya kembali ke kelas, bukan sebagai motivator, tetapi sebagai dosen yang berbagi tentang kewirausahaan. Di hadapan saya, puluhan mahasiswa awal semester, penuh semangat tapi juga penuh keraguan. Mereka datang dengan ekspektasi belajar cara membuat bisnis yang sukses—namun yang saya tekankan justru bukan itu.
Saya mulai dengan satu pertanyaan sederhana: “Apa yang menurut kalian paling sulit dalam menjadi wirausaha?”
Jawabannya beragam—modal, ide bisnis, pemasaran. Tapi jarang yang menyebutkan mental. Padahal, itu yang paling krusial.
Di dunia nyata, kegagalan itu pasti. Tidak semua bisnis langsung berhasil. Ada tekanan dari keluarga, omongan orang, rasa tidak percaya diri. Dan inilah yang saya ingin mereka pahami sejak awal—kewirausahaan bukan hanya soal strategi bisnis, tapi juga soal mentalitas.
Di kelas, saya tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membangun mindset. Saya bawa cerita tentang wirausahawan yang jatuh bangun, tentang bagaimana kegagalan adalah bagian dari proses. Ada yang awalnya pesimis, takut mencoba, tapi seiring waktu, mereka mulai melihat bahwa kewirausahaan bukan soal keberanian sesaat, melainkan keberanian untuk terus bangkit.
Saat kelas berakhir, saya tidak berharap mereka langsung jadi pengusaha sukses. Yang saya harapkan adalah mereka keluar dari kelas dengan mental yang lebih kuat—siap menghadapi tantangan, bukan sekadar mencari jalan mudah. Karena pada akhirnya, yang membedakan wirausahawan sejati bukanlah seberapa besar modalnya, tapi seberapa kuat mentalnya.