Aku ingat betul hari itu, seminggu yang lalu. Seorang calon klien menghubungiku lewat WhatsApp. Nada bicaranya antusias, penuh harapan. Katanya, bisnisnya butuh strategi baru, dan setelah mencari-cari, ia merasa aku adalah orang yang tepat untuk membantu.“Mas, konsepnya menarik banget! Saya suka cara Mas bikin strategi bisnis yang realistis,” katanya. “Kita fix kerja sama ya. Saya minta proposalnya dulu, nanti saya presentasikan ke tim.”Aku pun semangat. Langsung begadang menyusun proposal terbaik, lengkap dengan analisis SWOT, proyeksi keuntungan, sampai strategi eksekusi.
Aku bahkan kasih bonus tambahan: contoh case study dari klien sebelumnya, biar makin yakin.Tiga hari berlalu, tak ada kabar. Aku coba follow-up. Dibaca, tapi tak dibalas.Seminggu kemudian, aku coba telepon. Diterima, tapi suaranya terdengar buru-buru.“Wah, Mas, maaf banget! Saya masih diskusi sama partner. Nanti ya, kita kabarin. ”Aku masih positif thinking. Mungkin memang butuh waktu. Tapi instingku mulai berkata lain.
Beberapa hari kemudian, aku melihat sesuatu yang bikin perasaan campur aduk. Di Instagram, ada pengumuman dari si calon klien:”Kami sedang bekerja sama dengan Konsultan X untuk mengembangkan strategi bisnis kami!”Aku terdiam. Proposal yang aku susun mati-matian, waktu yang kuhabiskan untuk riset… semua sia-sia. Mereka bahkan tidak memberi kabar, hanya menghilang begitu saja. Akhir cerita…Aku bisa marah, tapi percuma. Aku belajar satu hal: tak semua janji bisa dipercaya, tak semua calon klien benar-benar serius. Kini, setiap kali ada customer yang terlalu banyak janji manis tapi minim aksi, aku selalu ingat satu hal—”sampai ada hitam di atas putih, jangan terlalu berharap.”