24
- Juli
2018
Posted By : admin
Big Data

Istilah big data beberapa tahun terakhir semakin populer digunakan. Secara sederhana big data adalah sekumpulan data dalam jumlah besar, kompleks, rumit, tidak terstruktur, dan bertumbuh dengan cepat sehingga memerlukan teknologi pengolahan agar data ini punya arti dan bermanfaat bagi sebuah institusi. Anda yang terbiasa menggunakan media sosial seperti facebook, akan paham betapa besar data yang dimiliki facebook karena telah diakses lebih dari 1 miliar orang dari seluruh dunia. Data inilah yang dijual facebook kepada para pengiklan untuk menargetkan kampanye iklan yang tepat kepada para pengguna facebook di seluruh dunia. Begitu pula yang diterapkan mesin pencari Google yang menerapkan big data untuk dimonetisasi kepada para pengiklan melalui Google Adwords dan google Display Netwerks.

Model ini bisa diterapkan di sektor lain. Sebagai contoh, MyHealthPal yang merupakan aplikasi yang didesain agar para pengguna dapat mengkontrol status kesehatan dan penyakit mereka, terutama untuk pasien penyakit parkinson. Aplikasi ini bisa di-download dan digunakan secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, pengguna memberikan data kepada pengembang aplikasi tersebut. Data ini akan diidentifikasi dan monetisasi dengan menjualnya kepada institusi riset sains. Umumnya, yang menerapkan model big data memberikan platform-nya secara cuma-cuma untuk digunakan. Sebagai imbal balik, para pengguna akan memberikan data-data kepada platform tersebut.

Pemanfaatan big data bisa diterapkan pula di sektor pertanian, startup lokal ci-agriculture.com berusaha menggunakan big data untuk menganalisis optimalisasi input tani versus hasil panen, prediksi tahapan pertumbuhan dan hasil panen, serta rekomendasi cara bertani yang spesifik. Dengan digunakan big data oleh startup ini, produktifitas petani meningkat. Satu lagi startup lokal yang mengandalkan analisis big data adalah Snapcat yang baru diluncurkan.

Snapcart adalah aplikasi mobile yang memberikan cash back kepada para pengguna. Cash back-nya berupa sejumlah uang kepada pemilik struk belanja dengan cara para pengguna memfoto struk belanjanya melalui aplikasi Snapcart. Tidak hanya itu, para pengguna bisa berpeluang mendapatkan cash back lebih besar jika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan brand yang telah bergabung ke Snapcart, seperti menonton vidio brand, melakukan foto selfie dengan produk dari brand tertentu, dan sebagainya. Dari sisi brand, Snapcart membantu memberikan data analisis mengenai kebiasaan pengguna atau shopper dalam berbelanja dalam satu bulan. Misalnya, berapa kali belanja dalam sebulan, satu kali belanja isinya apa saja, dan seterusnya sehingga bisa membangun hubungan lebih kuat dengan konsumen.

sumber : Buku Startup Business Model

Category:

Tinggalkan Balasan