13
- Juli
2018
Posted By : admin
Bisnis Freemium

Membahas model bisnis freemium, sebenarnya secara tidak sengaja kita sudah sedikit menyinggung model bisnis ini ketika membahas tentang startup Dropbox. Ketika Dropbox memutuskan bagi pengguna yang hanya menyimpan data hingga 2 GB diberikan gratis (free) dan bagi pengguna yang melebihi di atas 2 GB dikenakan biaya (premium). Jadi freemium diambil dari gabungan dua suku kata, free dan premium dan disingkat freemium.

Kalau dibedah, sebuah startup yang mengenakan model bisnis freemium mempunyai pengguna mayoritas yang tidak berbayar atau pengakses free (free users) dan sebagian minoritas yang berbayar (premium users). Namun, jumlah pengguna yang berbayar ini walau lebih sedikit tetap lebih dari cukup untuk menghidupkan startup dan menjadikan startup tersebut besar. Model bisnis ini sebagian besar digunakan oleh startup yang mempunyai produk atau layanan digital, seperti software, media, games, atau web services yang menyediakan basic fitur gratis, tetapi berbayar bila di-upgrade ke fitur yang lebih tinggi.

Pada dasarnya, tujuan startup memilih model bisnis freemium karena dua alasan. Pertama, marketing, yaitu agar mendapatkan banyak pengguna dalam waktu singkat. Walau pengguna tidak terkonversi menjadi pelanggan berbayar, pengguna ini bisa menjadi corong bagi startup untuk mereferensikan kepada para teman-temannya. Alasan kedua adalah efek jaringan (network effect, dengan arti semakin banyak pengguna sebuah startup maka startup semakin bernilai di mata para penggunanya. Contoh sederhananya, bila  Anda mempunyai telepon, tetapi tidak ada yang bisa Anda telepon, percuma Anda memiliki telepon. Namun, jika semakin banyak pengguna telepon, semakin bernilai dan dibutuhkan telepon tersebut. Ketika pengguna startup Anda semakin banyak dengan memancing mereka mencoba layanan gratis Anda, semakin bernilai startup Anda di mata pengguna tersebut. Hingga akhirnya mereka membutuhkan fitur lebih tinggi dari ditur basic yang diberikan cuma-cuma oleh Anda.

Selain Dropbox yang mengenakan model bisnis freemium, beberapa startup lainnya yang mengenakan model bisnis ini adalah HootSuite dan Mailchimp. Dua contoh startup tersebut berasal dari mancanegara. Sementara itu, untuk startup lokal, aplikasi mobile Learn Quran yang dikembangkan oleh Badr Interactive dapat menjadi salah satu contoh startup yang mengusung model bisnis freemium. Selain ketiga contoh tadi, masih banyak startup lain yang mengusung model bisnis ini. Namun, saya mengambil ketiga contoh startup ini karena ketiganya cukup mendapatkan jumlah pengguna yang cukup banyak.

Anda yang biasa menggunakan media sosial dan memiliki beberapa akun media sosial, startup yang bernama HootSuite akan sangat membantu Anda dalam mengelola akun media sosial. HootSuite memberikan secara cuma-cuma untuk Anda yang ingin mengelola akun media sosial sampai 3 akun. Untuk Anda yang memiliki lebih dari 3 akun media sosial, HootSuite memiliki layanan Pro yang berbayar sebesar USD 8,99 per bulan dan dibayar tahunan. Layanan Pro dari HootSuite bahkan memudahkan Anda untuk mengelola akun media sosial hingga 50 buah akun. Data riset mengungkapkan para pengguna internet umumnya memiliki lebih dari 3 akun per  orang sehingga mereka menerapkan layanan Pro yang berbayar untuk para pengguna yang memiliki lebih dari 3 akun media sosial. Saat ini, lebih dari 10 juta pengguna di seluruh dunia telah menggunakan startup HootSuite ini.

Lain HootSuite lain pula MailChimp. Startup satu ini lebih ditunjukan untuk Anda yang ingin melakukan email marketing, menyimpan database email pelanggan, mengirim email secara rutin terjadwal, menciptakan balasan email otomatis, dan mengotomasi pemasaran Anda melalui email. >odel bisnis freemium dari MailChimp memberikan para pengguna sebuah akun dengan fitur dasar menyimpan sampai 2.000 data email dan para pengguna bisa mengirim sebanyak 12.000 email per bulan secara cuma-cuma.

Sumber : Buku Startup Business Model

Category:

Tinggalkan Balasan