Hari itu, ruang B-206 terasa lebih panas dari biasanya. Mungkin karena AC yang rusak, atau mungkin karena lima pasang mata mahasiswa di dalamnya sedang tegang, menatap laptop masing-masing dengan wajah murung. Mereka adalah peserta program inkubasi bisnis kampus—dan mereka sedang buntu.
Di depan ruangan berdiri seorang dosen yang sekaligus menjadi coach mereka. Ia sudah terbiasa menghadapi mahasiswa dengan ide-ide setengah matang, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia bisa merasakan betapa hilangnya semangat di ruangan itu, seperti api kecil yang hampir padam. Salah satunya, Reza, tiba-tiba menutup laptop dengan bunyi keras.
“Pak, jujur aja, saya udah nyerah. Gak ada ide yang rasanya bener-bener bisa jalan,” katanya, nyaris menyerah.
Coach itu tidak langsung menjawab. Ia mendekat, duduk di samping Reza. “Coba ceritakan, apa yang kamu lihat di sekelilingmu akhir-akhir ini?”
Reza diam. Lama. Lalu ia berkata pelan, “Ibu saya jualan kue di rumah. Sejak pandemi, pembeli makin sepi. Tapi ibu masih tetap bikin, masih tetap bangun jam tiga pagi.”
Coach itu tersenyum. “Itu bukan cuma cerita. Itu peluang.”
“Peluang?” tanya Reza, bingung.
“Coba bayangkan, berapa banyak ibu-ibu lain seperti ibumu? Yang punya produk, tapi tidak punya pasar. Yang punya keahlian, tapi tidak punya jangkauan. Bagaimana kalau kamu buat platform kecil untuk mereka?”
Ruangan itu mulai hidup kembali. Mahasiswa lain ikut menyimak. Tiba-tiba, dari satu kisah personal, ide mulai berkembang.
Tasya, yang sebelumnya hanya ingin jualan tote bag, mulai berpikir tentang brand kolaboratif dengan komunitas difabel. Farhan, yang semula ingin bikin bisnis kopi seperti orang lain, mulai terpikir membuat paket edukasi kopi lokal untuk pelajar SMA.
Coach itu tidak memberikan ide. Ia hanya membuka pintu bagi mereka untuk melihat ke dalam—ke dalam hidup mereka, keluarga mereka, sekitar mereka. Karena ia percaya, ide bisnis terbaik bukan datang dari Google atau buku teks, tapi dari masalah nyata yang mereka alami sendiri.
Namun prosesnya tidak mudah.
Dua minggu kemudian, Reza datang dengan wajah pucat. “Pak, saya coba pitching ke teman-teman… mereka bilang ide saya ‘gak keren’. Terlalu kecil. Gak scalable.”
Coach itu menatap Reza dalam-dalam. “Mereka bilang terlalu kecil? Lalu mereka punya apa? Ide besar yang tidak dimulai?”
Reza tertawa kecil, gugup. Tapi kata-kata itu menancap. Malam itu, ia pulang dan memulai kembali dari nol—membuat prototype sederhana berupa katalog digital untuk produk rumahan di kampungnya. Ia beri nama “Dari Dapur Ibu.”
Tiga bulan kemudian, saat sesi presentasi akhir, bukan hanya Reza yang tampil dengan percaya diri. Seluruh kelompok membawa ide-ide yang lahir dari konflik batin mereka sendiri—dari rasa gagal, malu, takut, dan juga cinta. Coach itu berdiri di belakang ruangan, menatap mereka satu per satu.
Ia tidak butuh tepuk tangan. Ia tidak butuh diakui sebagai pembimbing hebat. Ia hanya ingin satu hal: bahwa di ruang kecil itu, di tengah panas dan kebuntuan, ada benih yang tumbuh. Ada mimpi yang kembali hidup.
Dan bagi seorang coach, itulah kemenangan yang sesungguhnya.