Di sebuah kota kecil bernama Tulungagung, Jawa Timur, hiduplah seorang perempuan bernama Lutfy Azizah. Kehidupan awalnya tak mudah. Sebagai seorang single parent sejak 2013, ia harus membesarkan anaknya sendirian setelah berpisah dari suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai guru TK dengan gaji hanya Rp150 ribu per bulan. Uang itu nyaris tak cukup, apalagi saat harga kebutuhan melambung tinggi. Tapi Mbak Lutfi—sapaan akrabnya—tak menyerah. Ia mencoba berbagai usaha kecil-kecilan: berjualan keripik, membuat kue, bahkan membuka warung. Sayang, semua itu berakhir gagal.
Kegagalan demi kegagalan tak mematahkan semangatnya. Hingga pada 2014, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Di tengah kebimbangan, ia menemui dosennya untuk berdiskusi. “Saya ingin membangun bisnis yang abadi,” katanya penuh harap. Sang dosen, yang hendak berangkat haji, justru menolak permintaannya untuk mendoakannya di Tanah Suci. Sebaliknya, ia menasihati Mbak Lutfi untuk bersedekah. “Sisihkan sedikit rezekimu, titipkan sebagai sedekah di Mekkah,” ujar dosen itu. Dengan keyakinan penuh, Mbak Lutfi menyedekahkan uangnya—meski jumlahnya tak besar—sambil berdoa agar bisnisnya diberkahi.
Tak disangka, jalan itu membawanya pada ide brilian. Saat itu, fenomena ojek online (ojol) mulai merebak di Indonesia. Mbak Lutfi melihat peluang: di Tulungagung belum ada layanan serupa. Dengan tekad baja, ia merintis Zendo pada 30 September 2014—sebuah bisnis ojol berbasis syariah. Nama “Zendo” diambil dari nama putra tercintanya, Zein, dengan harapan bisnis ini akan abadi seperti cintanya pada sang anak.
Awalnya, Zendo hanya menawarkan jasa antar makanan dengan tarif Rp3 ribu. Promosi dilakukan dari mulut ke mulut dan menyebar poster sederhana. Pelanggan pertama datang setelah lima hari berdiri. “Ada teman yang penasaran dan ingin mencoba,” kenangnya. Dari untung Rp3 ribu itu, perlahan bisnisnya tumbuh. Mbak Lutfi tak hanya mengandalkan ojol; ia memperluas layanan ke cleaning service dan perbaikan sarana prasarana.
Perjuangannya tak mudah. Sebagai perempuan single parent, ia harus membagi waktu antara mengurus anak, mengelola bisnis, dan memastikan layanan Zendo tetap prima. Tapi ketekunannya membuahkan hasil. Dalam setahun, Zendo sudah melayani 300 trip per bulan. Bahkan, Muhammadiyah—organisasi tempat ia aktif di Serikat Usaha Muhammadiyah—tertarik mengakuisisi Zendo setelah melihat konsistensi dan nilai syariah yang diusungnya.
Kini, Zendo bukan sekadar ojol biasa. Di bawah naungan Muhammadiyah, bisnis ini berkembang hingga membuka cabang di Tangerang. Namanya pun melambung sebagai salah satu pelopor ojol perempuan di Indonesia. “Saya hanya bermimpi bisnis yang abadi untuk anak saya. Ternyata, Allah menjawabnya dengan cara yang tak terduga,” ujarnya tersenyum.
Kisah Mbak Lutfi mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir, sedekah bukan sekadar ritual, dan kesuksesan bisa lahir dari ketulusan hati. Dari guru TK bergaji minim, ia membuktikan: selama ada niat, kerja keras, dan kepercayaan pada jalan-Nya, impian sekecil apa pun bisa menjelma menjadi harapan yang mengubah hidup.