Penerapan Business Model Canvas di Indonesia

Sejak munculnya praktik e-commerce model bisnis menjadi salah satu konsep yang paling menonjol di antara konsep-konsep manajemen yang lain. Hadirnya e-commerce membuat para praktisi bisnis mengubah total model bisnis lama menjadi model bisnis baru yang lebih sesuai. Penyebab utama kepopuleran model bisnis adalah karena ditengarai banyak organisasi yang tumbuh pesat karena kemampuannya menciptakan model bisnis yang tepat.
Model bisnis kanvas saat ini, atau lebih dikenal dengan Businnes Model Canvas (BMC). Konsep model bisnis yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur ini berhasil mengubah konsep model bisnis yang rumit menjadi sederhana. Dengan pendekatan kanvas, model bisnis ditampilkan dalam satu lembar kanvas, berisi peta sembilan elemen (kotak). Karena kesederhanaanya, metode kanvas dapat mendorong sebanyak mungkin karyawan terlibat dalam pengembangan model bisnis organisasinya.
Para akademis menjelaskan pengertian model bisnis dalam tiga kelompok, yaitu model bisnis sebagai metode (cara), model bisnis dilihat dari apek komponen-komponennya, dan model bisnis sebagai strategi bisnis.
Elemen dalam Business model canvas mencakup Customer Segments, Value Propositions, Channel, Customer Relationships, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key Partnerships, dan Cost Structure. Untuk menyusun model bisnis menggunakan pendekatan ini dimulai dari Customer Segments, diikuti dengan value Propositions, Channels, Customer Relationships, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key Partner, dan Cost Structure.
Untuk mengembangkan BMC, organisasi dapat mulai dari memotret kondisi saat ini, diikuti dengan analisis SWOT. Hasil analisis SWOT dapat digunakan untuk merancang model bisnis perbaikan dan prototipe model-model bisnis masa depan.
Sumber : Buku Business Model Canvas

0 Comments

Lewat ke baris perkakas