Manfaat Analisis Rasio Keuangan Untuk Peningkatan Kinerja Perusahaan

Kita telah belajar memahami laporan keuangan perusahaan pada bab-bab sebelumnya. Sekarang tiba saatnya untuk kita dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui rasio keuangan. Kinerja keuangan perusahaan diukur dengan analisis rasio dengan menggunakan informasi yang dihasilkan oleh Laporan Keuangan Perusahaan. Analisis kinerja keuangan perusahaan ini selain diperlukan oleh manajemen perusahaan, juga oleh kreditor dan para investor.

Analis rasio untuk menilai kinerja keuangan perusahaan umumnya dibagi dalam beberapa kelompok. Salah satu contoh pengelompokan seperti di bawah ini.

  1. Rasio Likuiditas (liquidity ratio), yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek yang segera harus dipenuhi.
  2. Rasio Solvabilitas (leverage), yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh ke wajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang
  3. Rasio Aktivitas (activity ratio), yang menunjukan tingkat efektivitas penggunaan aset perusahaan.
  4. Rasio Profitabilitas (profitability ratio), yang menunjukan tingkat imbalan atau perolehan (laba)

Beberapa analis rasio telah mulai kita bahas pada bab sebelumnya. Antara lain rasio likuiditas yang terkait erat dengan arus kas, beberapa rasio profitablitas yang terkait laporan laba rugi. Dengan demikian kita telah mempunyai gambaran apakah analisis rasio itu. Yaitu suatu rumus pembagian yang terdiri dari pembilangan dan penyebut dari dua pos laporan keuangan.

Fokus pembahasan kita mengenai rasio keuangan di bab ini ialah dari sudut pandang manajemen perusahaan. Ukuran kinerja di perusahaan disebut dengan Key Performance Indicators (KPI). Dan ini berlaku juga untuk kinerja keuangan perusahaan yang menggunakan analisis rasio. Di perusahaan pembagian fungsi dan tanggung jawab secara hierarki umum nya mengikuti struktur organisasi perusahaan.

Karena itu pembahasan analisis rasio keuangan sebagai KPI akan mengikuti penjenjangan organisasi perusahaan. Jadi pembahasan disini tidak mengikuti pembagian kelompok analisis rasio tersebut sebagaimana lazimnya. Kita lebih tertarik dengan KPI yang relevan sesuai dengan posisi kita di perusahaan dan melihat bagaimana kita dapat berkontribusi pada KPI ini.

Meskipun fokus kita ialah KPI pada manajemen perusahaan, akan tetapi manajemen juga perlu mengetahui sudut pandang kreditor dan investor menggunakan analisis rasio untuk melihat perusahaan kita ini. Analisis rasio yang dibahas berdasarkan nilai buku perusahaan. Yaitu nilai historis yang telah terjadi.

Bagaimana Analisis Rasio Sebagai KPI Membantu Manajemen?

Berbicara mengenai Key Performance Indicator (KPI) perusahaan, maka biasanya KPI terstruktur secara hierarki sesuai dengan organisasi perusahaan tersebut. Ini berarti KPI pada tingkat manajemen yang di atas akan dijabarkan menjadi KPI untuk manajemen yang ada di bawahnya. Sebaliknya KPI dari manajemen tingkat bawah juga harus mendukung KPI yang ada di tingkat manajemen di atasnya.

Setiap unit operasi di organisasi dan sesuai dengan tingkatannya mempunya KPI yang harus dievaluasi dan dipertanggungjawabkan pada manajemen di atasnya. Demikian pula berlaku untuk kinerja keuangan perusahaan.

Pembahasan kita mengenai kinerja keuangan perusahaan yang berorientasi dari sudut pandang pelaku atau manajemen perusahaan itu sendiri dibagi dalam dua kelompok. Yaitu tingkat manajemen puncak (top management) dan tingkat operasional yang terdiri dari para manajer atau supervisor atau staf yang ada di bawahnya. Untuk fleksibilitas diskusi, kita tidak mendefrensiasi tingkatan ini karena akan bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Berikutnya kita menempatkan analisis rasio pada tingkat manajemen yang paling sesuai dengan tanggung jawabnya.

Sebelum kita melangkah lebih lanjut kita perlu mengingat kembali bahwa tugas manajemen dari segi keuangan ialah mengelola aset menjadi penjualan dan menghasilkan laba. Dan untuk membiayai aset ini, manajemen perusahaan harus dapat mencari sumber dana yang bersedia memberikan pinjaman yang dibutuhkan perusahaan, selain sumber dana dari pemegang saham. Karena dana ini dipinjam, maka manajemen juga harus mengelola pengembaliannya tepat waktu. Dan yang tidak kalah penting perusahaan harus dapat meningkatkan nilai dari pemegang saham dan atau membagikan dividen karena ini tujuan pemegang saham berinvestasi. Semua ini harus merupakan objektif perusahaan yang dapat diukur. Untuk dapat mengukur objektif ini, maka kita perlu menambah 1 kelompok KPI lagi yaitu untuk pemegang saham. Brdanya kinerja dari KPI ini lebih merupakan hasil akhir untuk pemegang saham, yang kebijakannya dibuat oleh manajemen.

Dengan demikian kita mempunyai tiga pengelompokan KPI. Pertama ialah KPI untuk mereka yang bertanggung jawab pada tingkat operasional. Berikutnya KPI untuk manajemen atas, yaitu mereka yang bertanggung jawab untuk seluruh perusahaan. Dan terakhir KPI untuk pemegang saham yang menilai hasil investasinya. Struktur KPI yang terintegrasi untuk ketiga kelompok tersebut.

Hubungan terintegrasi ke -3 kelompok tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. KPI yang ada pada kelompok operasi menjadi apa yang disebut sebagai pendorong kinerja (performance driver) untuk KPI tingkat manajemen atas. Artinya keberhasilan dari KPI pada tingkat ini ditentukan oleh KPI di tingkat operasional. Sebagai contoh, profitabilitas di KPI operasi berkaitan dengan % laba terhadap penjualan masuk kelompok rasio profitabilitas. Berikutnya Likuiditas, Perputaran Piutang, Perputaran per sediaan, Perputaran Aset tetap, dan lain sebagainya. KPI pada tingkat ini merupakan KPI yang sifatnya operasional artinya ia dapat dieksekusi oleh pelaksana atau pejabat di posisi ini. Tidak semua rasio pada KPI operasional ini sama pentingnya. Hal ini bergantung jenis usahanya. Misalnya pada perusahaan trading, maka rasio perputaran piutang dan persediaan penting. Sedangkan pada perusahaan manufaktur yang pentingadalah perputaran harta tetap. Bila rasio tersebut ini menjadi performance driver untuk KPI yang lebih tinggi, maka sebaliknya rasio kinerja operasi ini dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi KPI pelaksana yang umumnya merupakan KPI berkaitan dengan produktivitas. Akan dibahas lebih lanjut pada manajemen kinerja terintegrasi.
  2. Pada kelompok manajemen atas, maka ROA dan financial Leverage (Solvabilitas) adalah KPI yang mendukung tercapainya KPI Imbal Hasil atas Ekuitas (ROE, Return on Equity). ROA itu sendiri menggambarkan bagaimana manajemen mengelola aset menjadi penjualan dan laba. Sedangkan Solvabilitas menggambarkan kemampuan manajemen atas untuk mendapatkan pinjaman dengan risiko pengembalian sekecil mungkin.
  3. KPI untuk pemegang saham selain ROE, yang juga merupakan KPI manajemen puncak lebih merupakan analisis rasio yang berkaitan dengan nilai saham dan dividen yang diterima. Dan rasio ini lebih relevan pada perusahaan TBK, Karena itu kita tidak akan membahas rasio ini.

Seberapa Pentingnya ROA dan ROE Bagi Manajemen?

Pengalaman di lapangan menunjukan para eksekutif di korporasi jarang bersentuhan dengan kedua rasio ini dalam aktivitas rutin. Analisis rasio ini lebih sering ditemukan dalam latihan atau workshop mengenai manajemen keuangan. Tetapi dari KPI keuangan perusahaan terintegrasi tampak bahwa rasio ROE dan ROA adalah KPI utama untuk pemegang saham dan manajemen tingkat atas. Analisis rasio ini juga termasuk hal yang penting untuk kalangan investor atau pihak perbankan dalam mengevaluasi kinerja keuangan suatu perusahaan.

ROE sebagai rasio imbal hasil atas ekuitas, menjadi ukuran kinerja perusahaan sekaligus pemegang saham. Bagi pemegang saham yang menginvestasikan dananya di perusahaan sebagai ekuitas (yaitu modal disetor dan laba ditahan). Ia mengharapkan imbalan yang sepadan. Bukankah tujuan pemegang saham ketika menginvestasikan dananya di suatu perusahaan, untuk mendapatkan imbalan dari dana ini. Rasio dari keduanya ini dapat digambarkan sebagai berikut ini.

Untuk mendapatkan nilai rasio tersebut tidak sukar. Kita lihat bahwa rasio ini didapat dari rumus sebagai berikut:

  1. ROE adalah rasio hasil dari Laba Bersih (Profit After Tax, PAT) dibagi dengan Ekuitas, dan
  2. ROA adalah rasio hasil dari Laba Operasi (Profit Before Tax & Interest, PBIT) dibagi dengan Aset.

Bila manajemen ingin meningkatkan ROE dan ROA, timbul pertanyaan, bagaimana carany? Bila kita melihat dari rumus kedua rasio tersebut maka untuk memperbesar ROA atau ROE adalah memperbesar pembilang dan atau mengecilkan penyebut dari rumus masing_masing tersebut. Memperbesar pembilang berarti menaikan laba dan mengecilkan penyebut berarti menurunkan Aset dan Ekuitas. Tapi baik laba maupun Aset dan Ekuitas adalah hasil akhir yang bergantung dari sejumlah usaha atau aktivitas lainnya.

Dengan demikian meskipun kedua rasio ini rumusnya sederhana, tetapi tidak dapat langsung dioperasionalkan untuk melakukan perbaikan atau peningkatan kinerja. Ia perlu di jabarkan lebih lanjut KPI yang lebih operasional. KPI dari ROA hanya dapat dicapai dengan melakukan eksekusi dari performance driver yang ada pada tingkat operasional. Karena itu fokus dari manajemen lebih pada “performance driver”, yang merupakan penjabaran dari ROE dan ROA.

Rumus ROA itu sendiri dapat diurai menjadi dua bagian yang masing-masing merupakan KPI yang dapat berdiri sendiri, Laporan Laba Rugi. Rumusnya ialah:

PBIT/PENJUALAN (SALES)

KPI yang kedua ialah apa yang desebut dengan PERPUTARAN ASET (ASSET TURN OVER). KPI ini menunjukan rasio perputaran Aset menjadi Penjualan Dan rumusnya ialahhh

SALES (PENJUALAN) / ASET

Hubungan ROA dengan kedua KPI tersebut adalah hubungan matematis seperti tampak pada rumus persamaan di atas. Secara operasional ROE akan naik bila kita dapat meningkatkan KPI profitabilitas dan KPI Asset Turn Over.

KPI Profittabilitas

KPI profitabilitas dari laba operasi sendiri masih perlu dijabarkan lebih lanjut dalam KPI operasional yang kita sebut dengan performance driver. Dengan demikian tampak bahwa untuk menaikan PBIT atau Laba Operasi, kita bergantung pada penurunan sejumlah KPI lain rasio profitabilitas seperti pada contoh ini. KPI inilah yang disebut dengan performance driver, karena ia mendukung KPI di atasnya yaitu KPI ROA. Adapun sebagai pelaksana dari KPI yang merupakan performance driver ialah mereka yang ada pada tingkat operasional (bisa manajer, supervisor, atau staf lainnya). Bagaimana meningkatkan keberhasilan KPI ini telah diuraikan pada Bab 3 mengenai laba sebagai kinerja keuangan perusahaan.

KPI Perputaran Aset (Aset Turn Over)

Berikutnya kita jabarkan KPI dari Asset Over.

ASSET TURN OVER (Perputaran Aset) juga bukan suatu KPI yang operasional. Karena terdiri dari bermacam-macam komponen atau akun yang pada prinsipnya dibutuhkan untuk melakukan penjualan. Karena itu perlu dijabarkan lebih lanjut.  Pada contoh kita:

  1. Aset dari akun Piutang kita mendapatkan rasio PERPUTARAN PIUTANG, yang rumusnya adalah Piutang/Penjualan (dikenal dengan AR turn over).
  2. Aset dari akun Persediaan kita mendapatkan rasio PERPUTARAN PERSEDIAAN, yang rumusnya adalah persediaan/Penjualan. (dikenal dengan inventory Turn over).
  3. Aset dari akun Aset Tetap (Fixed Asset) kita mendapatkan rasio PERPUTARAN ASET TETAP, yang rumusnya adalah Aset tetap/penjualan.

Ketiga KPI yang menjadi contoh di atas, merupakan KPI yang sudah dikenal pada tingkat unit operasi. KPI ini sering dijabarkan lebih lanjut pada tingkat pelaksanaan. Sebagai contoh perputaran piutang dijabarkan lebih lanjut menjadi “collection period” atau “collection yang sudah overdue.”

Perputaran persediaan menjadi jumlah hari persediaan dan seterusnya. Perputaran aset tetap menjadi jam kerja mesin perhari sebagai contoh. Tujuan semua ini ialah pengendalian yang operasional. Yang kita dapat belajar di sini ialah KPI di tingkat operasional ini ternyata ikut mendukung tercapainya KPI pada tingkat perusahaan yaitu ROA.

Dengan demikian kita lihat bahwa rasio ROA merupakan KPI manajemen dari segi keuangan mengenai keberhasilan manajemen mengelola aset menjadi penjualan yang menghasilkan (Laba Operasi atau PBIT). Dan untuk mengelola KPI ini, maka manajemen perlu didukung dengan pencapaian dari sejumlah KPI yang merupakan penjabaran dari rasio ROA di tingkat operasional seperti kita lihat di atas tadi.

Penjabaran Lebih Lanjut dari ROE

Salah satu tugas manajemen adalah menaikan apa yang disebut dengan “shareholders value” atau peningkatan nilai dari pemegang saham. Rasio ROE adalah KPI untuk maksud ini, di mana rasio ini terdiri dari Laba Bersih (Profit After Tax, PAT) dan Ekuitas.

Seperti pada ROA, demikian juga dengan ROE kita ingin agar KPI ini juga dapat dioperasionalkan oleh manajemen perusahaan. Dan kita lihat Laba Bersih (PAT) dan Ekuitas merupakan besaran hasil dari suatu aktivitas lainnya. Karena itu rasio ROE perlu dijabarkan lebih lanjut menjadi KPI yang telah lebih dahulu kita ketahui dan dapat dioperasionalkan.

Mencari KPI operasional pada ROE lebih kompleks dari ROA. Besarnya Ekuitas di neraca dapat kita ketahui dari rumus Ekuitas = Aset – Kewajibat. Bila Aset telah tertentu, maka variabel yang menentukan besarnya Ekuitas ialah besarnya Kewajiban (pinjaman baik jangka panjang maupun jangka pendek). Makin besar pinjaman (=kewajiban di neraca) makin kecil Ekuitas – makin besar ROE.

Laba Bersih (PAT) didapat dari laba Kotor (PBIT) dikurangi dengan Bunga (Interest) menjadi Laba sebelum Pajak (PBT) Yang kemudian dikurangi lagi dengan Pajak (Tax). Dari perhitungan ini, maka Pajak tidak dapat dikontrol oleh manajemen. Sedangkan besarnya Bunga Pinjaman (INT) bergantung pada besarnya Pinjaman. Karena rasio itu ROE = LABA BERSIH/EKUITAS, mempunyai variabel pinjaman (kewajiban/utang). Maka menarik untuk mengamati terlebih dahulu pengaruh faktor pinjaman ini pada ROE.

Analisis Struktur Pinjaman Terhadap ROE

Sebelum kita meneruskan pembahasan, kita akan berkenalan lebih dahulu dengan suatu rasio yang telah disinggung pada bab 2 yaitu rasio antara besarnya kewajiban dan modal atau ekuitas. Kita akan mengamati pengaruh besarnya rasio Pinjaman terhadap Ekuitas atau D/E pada besarnya ROE, dengan contoh dan analisis dari tiga kasus dengan struktur pinjaman (kewajiban) yang besarnya berbeda. Di sini rasio D/E kasus A, lebih kecil dari D/E kasus B, dan lebih di antara ketiganya?

Berikut ini pertimbangannya:

  1. Dari rumus ROE, makin kecil ekuitas makin besar rasio ROE, jadi dalam hal ini pilihan yang terbaik adalah C.
  2. Di pikah lain makin besar utang makin besar risiko perusahaan. Karena bila tidak dapat mengembalikan pinjaman, perusahaan dapat menjadi bangkrut. Karena itu struktur pinjaman vs modal ini menjadi perhatian dari bank. Bank mempunyai limitasi besarnya Pinjaman terhadap Modal untuk setiap jenis industri. Karena itu meskipun C pilihan terbaik untuk mendapatkan ROE, belum tentu ada bank yang mau memberi pinjaman ini.

Pengaruh Pajak (Tax) dan Leverage

Dari sisi lain, makin kecil pinjaman (kasus A) akan mengecilkan bunga pinjaman, Sebaliknya pada pilihan C, akan memberikan biaya bunga yang lebih besar dari pada pilihan A. Biaya bunga yang lebih besar akan mengecilkan laba sebelum pajak (PBT). Akibatnya pajak (tax) yang dibayar lebih kecil untuk persentasi pajak yang sama (suatu rasio yang ditentukan pemerintah).

Berikut ini uraian yang lebih detail mengenai efek pajak tersebut dalam kaitan dengan leverage atau rasio D/E. Uraian ini bersifat teknis, dan pembaca yang ingin menghindari pembahasan teknis yang rinci, cukup melihat kesimpulan pada 2 alinea terakhir halaman. Pada simulasi ini sebagai variabel ialah rasio antara hutang (kewajiban) dan ekuitas dan kita akan membandingkan hasil akhirnya yaitu rasio antara laba bersih terhadap ekuitas atau ROE. Kita mengambil contoh 4 kemungkinan rasio D/E (A, B, C dan D).

Pertama tampak bahwa makin besar D/E, maka makin kecil PBT. Bila interest diasumsikan = nol, maka jelas makin kecil PBIT, maka makin kecil ROE.

Kedua kita melihat efek dari pajak (tax). Ternyata semakin besar pinjaman maka pajak yang harus dibayar semakin kecil. Artinya kita dapat dengan sengaja (dan legal) menurunkan besarnya pajak dengan menaikan utang atau pinjaman. Tapi jangan lupa dari sisi perusahaan ia harus membayar bunga yang lebih besar (dan penerima bunga ini yang dikenakan pajak).

Dari hasil akhir simulasi ini tampak bahwa nilai (besaran) dari laba sebelum pajak dan bunga (PBIT) dan laba bersih (PAT) akan naik bila D/E mengecil. Tetapi dalam persentase terhadap ekuitas, yaitu dana yang ditanam pemegang saham di perusahaan atau rasio ROE akan membesar. Tetapi perlu diingat kembali bahwa utang atau pinjaman dengan D/E besar mempunyai risiko dalam kemampuan perusahaan untuk melunasi utang ini. Dan pihak perbankan sangat menaruh perhatian pada batasan D/E dalam memberi pinjaman. Karena itu menjadi tugas manajemen untuk mencari optimasi dari besarnya utang perusahaan.

Bagaimana Meningkatkan ROE?

Agar rasio ROE ini bisa dioperasionalkan dalam arti manajemen dapat mengusahakan untuk pencapaian suatu target ROE, maka rumus ini perlu dijabarkan dalam KPI yang juga operasional. Artinya kita harus dapat menjabarkan ROE dalam KPI turunan yang operasional atau menjadi “performance driver” Untuk itu ini kita akan menguraikan rasio ROE. Dan ternyata ROE ini merupakan fungsi dari tiga KPI lainnya, yaitu ROA yang telah kita kenal terlebih dahulu, berikutnya adalah KPI Leverage yang baru dibahas terakhir dan yang ketiga ialah KPI dari Efek Pajak (Tax Effect). Rumus yang memperlihatkan ketiga hubungan adalah sebagai berikut.

ROE = RETURN ON ASSET (ROA) x FINANCIAL LEVERAGE x TAX EFFECT

Penjabaran tersebut didapat dari hubungan persamaan matematis dari beberapa rasio yang terlibat. Bila kita tidak ingin direpotkan dengan rumus tersebut, maka kita bisa langsung pada kesimpulan mengenai rasio ROE tersebut.

Secara umum ROE merupakan fungsi dari:

  1. ROE yang merupakan KPI yang telah kita pelajari sebelumnya:
  2. Fungsi dari Financial Leverage yang baru kita pelajari di atas:
  3. Tax effect yaitu besarnya % Tax yang lebih banyak ditentukan peraturan perpajakan yang berlaku.

Bagi pemegang saham, ROE bukan satu-satunya ukuran kinerja perusahaan, besarnya dividen yang dapat diterima merupakan tolak ukur lain bagi pemegang saham. Besarnya ROE tidak menjamin perusahaan dapat membayar dividen, ksrena laba yang tercatat menunjukan potensi menjadi kas. Besarnya kas yang tersedia yang akan menentukan apakah dividen dapat dibagikan kepada pemegang saham. Pada perusahaan TBK, maka pemegang saham berkepentingan dengan besarnya laba per lembar saham (EPS) dan rasio harga saham terhadap laba (PER).

Dalam hal perusahaan akan menambah modal saham atau menjual sebagian sahamnya pada investor baru, maka ROE merupakan salah satu rasio yang menjadi indikator dari kinerja perusahaan. Sebaliknya bila pemegang saham yang menjalankan sendiri perusahaannya sebagai pimpinan perusahaan, maka ia akan lebih berkepentingan nilai (besaran) laba, karena ia berpotensi menjadi kas yang dapat membantu perputaran roda perusahaan.

Perlu dicatat meskipun rasio ROE ini seolah-olah merupakan simpul dari banyak rasio, tidak dapat diartikan bahwa bila rasio ini bagus (dalam arti besar), maka perusahaan secara keseluruhan dalam keadaan baik. Kita tetap harus melihat kinerja rinci dari banyak faktor lain. ROE hanya merupakan pengantar masuk untuk mempelajari kinerja keuangansecara sistematis.

Piramida Kinerja Keuangan Perusahaan Terintegrasi

Model ini merupakan implementasi dari KPI rasio keuangan terintegrasi, yang sebelumnya digambarkan dengan tiga pengelompokan, yaitu pemegang saham, manajemen atas dan operasi. Model disini lebih menggambarkan struktur hierarki (piramida) manajemen dan keterkaitan dari kinerja tingkat puncak hingga pelaksana dan KPI disini tidak selalu merupakan rasio keuangan.

Struktur hierarki manajemen dibagi dalam empat tingkatan, manajemen puncak, menengah, bawah, dan pelaksana. Dalam praktiknya sangat bergantung dari besar kecilnya perusahaan. Pada perusahaan relatif kecil, akan banyak perangkapan tingkat dan fungsi jabatan, sedangkan pada perusahaan relatif besar struktur hierarki ini semakin terdeferensiasi.

Model ini sebenarnya menggambarkan bagaimana manajemen perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis perusahaan. Sebagai pimpinan yang dicerminkan pada pada pucuk piramida ia mengendalikan dua fungsi utama yaitu operasi dan manajemen keuangan. Fungsi operasi berhubungan bagaimana ia mencapai penjualan dan laba melalui aset perusahaan yang diinvestasikan. Dan KPI-nya ialah ROA. Fungsi manajemen keuangan ialah mencari sumber dana untuk membiayai aset tersebut. Dan yang menjadi pertimbangannya ialah rasio D/E atau Leverage.

Selanjutnya mana jemen perusahaan bekerja untuk pencapaian target penjualan, harga pokok penjualan, dan laba yang dilaporkan pada Laporan Laba Rugi. Karena itu target di sini yang menjadi KPI tetapi bukan rasio melainkan hasil aktivitas. Umumnya titik tolak kinerja keuangan perusahaan dimulai dari sini. Pencapaian target ini juga menjadi target dari manajemen tingkat menengah yang umumnya merupakan manajer unit fungsional. Target ini dapat dikaitkan dengan KPI dari rasio profitabltas, perputaran aset atau likuiditas. Target KPI disini dapat bersifat “cross-functional”. Sebagai contoh seorang manajer produksi maka ia akan bertanggung jawab terhadap biaya produksi yang tercermin pada KPI HPP. Di samping itu ia juga bertanggung jawab rasio perputaran aset misalnya untuk utiliasi mesin produksi.

Sedangkan seorang manajer penjualan, selain bertanggung jawab terhadap hasil penjualan, dia juga bertanggung jawab terhadap KPI perputaran aset yang menyangkut perputaran piutang. Secara berkesinambungan target ini dijabarkan lebih lanjut pada manajemen bawah. KPI di sini umumnya sudah merupakan KPI rasio yang sifatnya berupa “performance driver”. Seperti perputaran piutang, Perputaran Persediaan, kontrol biaya material atau biaya tertentu lainnya. KPI di tingkat bawah ini pasti mendukung KPI di atasnya. Sebagai contoh perputaran Piutang mendukung rasio perputaran aset, tapi sekaligus juga rasio likuiditas. KPI mana yang lebih penting bergantung jenis usaha perusahaan. Contohnya, pada perusahaan trading perputaran persediaan dan perputaran piutang adalah KPI yang penting.

Bila pada manajemen menengah KPI-nya ialah “besarnya piutang dalam jumlah hari”, maka pada pelaksana KPI-nya “% piutang pelanggan yang belum tertagih”. Masih pada unit pelaksana, terutama yang berkaitan dengan pencapaian biaya (cost), akan dijabarkan lebih lanjut dalam KPI yang lebih operasional seperti produktivitas dan penurunan biaya tertentu (cost reduction program). Sebagai contoh ialah penjualan/tenaga penjualan atau penjualan/satuan luas pada toko retail. Ini semua rasio produktivitas tapi bukan analisis rasio dari laporan keuangan.

Dengan demikian tampak bahwa pencapaian kinerja keuangan dari perusahaan dari pucuk piramida, keberhasilannya di tentukan oleh batu-batu pijakan yang saling tersusun untuk mendukung target di atasnya. Kita lihat pula bahwa keterlibatan seluruh karyawan perusahaan dalam mensukseskan pencapaian keberhasilan target perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada manajemen partisipatif, penting bagi setiap karyawan untuk melihat bahwa tugas dan target yang mereka jalankan tersebut merupakan batu pijakan dalam rangka suatu objektif bersama yang lebih besar seperti yang diperlihatkan pada piramida kinerja keuangan perusahaan ini.

Sebaliknya bagi para investor atau pihak bank, maka ROE dan ROA merupakan KPI yang menggambarkan seberapa “baiknya” perusahaan ini, tanpa terlibat dalam hal yang detail ke operasional perusahaan yang memang di luar jangkauannya.

Bagaimana Menganalisis Kinerja Keuangan Perusahaan Dengan KPI Rasio Keuangan?

Mari kita mengambil contoh KPI Profitabilitas untuk tahun 2014. Laba Operasi = 12%. Karena ia adalah sebuah KPI maka pertanyaannya apakah rasio 12% baik atau buruk? Jelas rasio ini tidak dapat menyimpulkan apa-apa.

Karena itu untuk menganalisis kinerja, kita memerlukan suatu pembanding dari rasio tersebut. Beberapa kemungkinannya sebagai berikut:

  1. Hasil kinerja periode ini dibandingkan antara rencana dan aktual (plan vs actual), dari rasio periode yang sama;
  2. Membandingkan hasil periode ini dengan periode sebelumnya atau beberapa periode sebelumnya (naik atau turun).
  3. Membandingkan rasio yang sama dengan perusahaan lain dari industri yang sejenis. Metode ini sering juga disebut dengan ‘benchmark’

Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam menganalisis rasio keuangan sebagai KPI ialah fase perkembangan perusahaan. Perusahaan pada fase awal yang lebih dikenal dengan sebutan start-up akan berbeda kinerjanya dengan fase pertumbuhan (growth) dan akan berbeda dengan fase maturitas (maturity). Fase-fase ini dikenal dengan istilah ‘Business Life Cycle’. Siklus ini menggambarkan bagaimana kinerja penjualan. Laba dan arus kas yang berkembang sesuai dengan fasenya. Mengenai hal ini telah kita lihat bersama pada Bab Laporan Arus kas.

Rekap Kinerja Keuangan Perusahaan

Rasio keuangan dan KPI keuangan berdasarkan laporan keuangan perusahaan sekalipun telah diuraikan secara panjang lebar, tetapi dalam penerapannya kita perlu bijaksana memilah apa yang sesuai dan diperlukanperusahaan. Manajemen perusahaan harus dapat mengetahui KPI apa yang efektif untuk membantu memonitor pencapaian sasaran perusahaan. Jangan sampai kita masuk dalam jebakan pengukuran kinerja perusahaan (performance management) yang sebenarnya mempunyai keterbatasan. Keterbatasan itu antara lain:

 

 

0 Comments

Lewat ke baris perkakas