Laporan Laba Rugi, Rekaman Kinerja Bisnis Perusahaan

Laporan Laba Rugi sudah dikenal semua pelaku bisnis. Seorang pebisnis dalam satu bulan membeli barang dengan total harga Rp120 dan bulan yang sama ia berhasil menjual dengan harga total Rp170. Ia juga menghitung biaya lain yang ia gunakan selama satu bulan tersebut, katakanlah Rp20. Dengan demikian pada bulan tersebut ia mendapat keuntungan dari perhitungan Rp170 – RP20 = Rp30. Bila aktivitas ini berjalan terus berkesinambungan, maka inilah yang dikatakan sebagai suatu bisnis. Dan laporan Keuangan Laba Rugi untuk satu periode menggambarkan hasil usaha bisnis ini.

Persoalan baru timbul bila kita membaca Laporan Keuangan Laba Rugi yang komprehensif dan melihat pada detail laporan ini. Membaca laporan ini menjadi tidak sederhana seperti uraian di atas. Makin kompleks bisnisnya. Semakin sulit kita melihat hubungan antara bisnis yang kita jalankan dan apa yang tertera di laporan keuangan. Pola “Penjualan-Biaya Produk-Biaya Operasi = Laba”, pada garis besarnya tetap sama.

Contohnya pada pembebanan biaya produk yang ada laporan ditulis sebagai Harga pokok penjualan. Prinsip ini sama yaitu pembebanan dari barang yang kita jual. Tetapi sama sekali tidak menggambarkan barang seperti yang kita beli pada uraian di atas. Semua kesukaran ini bermula dari sistem pencatatan akuntansi yang mempunyai standar pencatatan tertentu. Tetapi tujuan dari sistem pencatatan menurut standar akuntansi tertentu ini, justru untuk menyederhanakan pencatatan dari suatu bisnis yang kompleks. Sehingga laporan ini dapat di baca dengan interpretasi yang sama oleh setiap pembaca yang berkepentingan. Tujuan kita ialah bagaimana kita bisa membaca Laporan Laba Rugi yang pencatatannya dilakukan sesuai suatu tandar akuntansi dan tetap dapat melihat dalam hubungannya dengan bisnis yang kita jalankan. Isu pada pembuatan laporan Laba Rugi, pertama adalah pencatatan penjualan sebagai pendapatan. Berikutnya bagaimana kita menghitung Harga Pokok Penjualan yaitu biaya dari produk yang dijual.

Pencatatan Penjualan Sebagai Pendapatan

Laporan Laba Rugi (profit & Loss Statement, income Statement) perusahaan selalu diawali dengan nilai pendapatan untuk periode yang bersangkutan. Seperti ilustrasi sebelumnya, dengan mengurangi biaya-biaya perusahaan dari nilai pendapatan, kita mendapatkan nilai kauntungan dari perusahaan. Pada Bab 1, kita telah melihat transaksi penjualan terjadi pada saat penyerahan barang pada pelanggan dan bersamaan itu dibuat faktur (invoice). Dan bila penjualan tersebut berupa jasa, maka pendapatan diakui pada saat jasa tersebut selesai.

Yang menjadi masalah ialah kapan penjualan tersebut dicatat  sebagai pendapatan (pada laporan laba rugi). Saat pengakuan pendapatan, bergantung pada metode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Disini kita kembali pada prinsip akuntansi berbasis akrual dan kas. Aktivitas penjualan perusahaan dapat dilakukan secara kredit maupun tunai.

Menurut Akuntansi Berbasis Kas

Bulan Juli  :

  • Pendapatan = Rp 100
  • Biaya Produksi = Rp75
  • Laba = Rp25

Bulan Agustus

  • Pendapatan = Rp50
  • Biaya Produksi = Rp0
  • Laba = Rp50

Menurut Akuntansi Berbasis Akrual:

Bulam Juli = Total

  • Pendapatan = Rp150
  • Biaya Produksi = Rp75
  • Laba = Rp75

Secara total kedua metode akuntansi menunjukan total laba Rp75.

Perbedaan yang ada terjadi saat di mana pengakuan pendapatan dan biaya. Pada saat perusahaan melakukan penjualan secara kredit, pengakuan pendapatan terjadi pada saat serah terima barang dan pengakuan biaya-biaya yang terkait dengan penjualan ini dilakukan pada periode yang sama. Kesimpulan lain dari contoh di atas tampak bahwa sistem akuntansi berbasis akrual dapat menggambarkan laba sebagai hasil akhir setiap periode (bulan dalam contoh ini) yang lebih realistis. ini salah satu sebab mengapa standar akuntansi yang umum dipakai ialah sistem yang basis akrual. Sebagai catatan, sistem akuntansi berbasis kas, umumnya digunakan pada perusahaan dengan jumlah transaksi relatif tidak banyak dalam satu periode.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah pembebanan biaya dari produk atau barang yang dijual perusahaan pada pelanggan untuk periode yang sama dengan periode penjualan. Bila perusahaan melakukan penjualan, biaya pengadaan/produksi yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan/menghasilkan barang tersebut disebut sebagai Harga Pokok Penjualan. Dalam konsep bisnis yang paling sederhana, di mana perusahaan baru membeli barang setelah ada pesanan dari pelanggan, untuk kemudian dijual; perhitungan HPP sangat mudah diikuti.

Menggunakan contoh kita sebelumnya, HPP dari perusahaan adalah Rp100. Pertama kita akan melihat proses perhitungan HPP untuk perusahaan dagang (trading). Proses perhitungan HPP menjadi lebih rumit ketika perusahaan mulai memiliki persediaan (stok atau inventori), di mana aktivitas penjualan mengambil barang dari persediaan. Persoalannya menjadi lebih rumit lagi karena ternyata setiap kali dilakukan pembelian, harga beli berubah-ubah karena berbagai alasan seperti perubahan harga pasar, ada diskon dan sebagainya.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan untuk Perusahaan Dagang (Trading)

Pada Laporan Laba Rugi, perhitungan Harga pokok penjualan dari suatu perusahaan. Dimana “digunakan atau terjual merupakan Harga pokok Penjualan. Perlu menjadi catatan bahwa pada perhitungan HPP, baik saldo, pembelian dan digunakan/terjual dalam nilai Rupiah. Nilai Rupiah ini jelas datang dari jumlah unit barang dikalikan harga barang. Sekalipun barang persediaan disimpan di gudang perusahaan dalam unit, tetapi pencatatan di neraca selalu dalam mata uang dalam hal ini Rupiah.

Keterangan:

Perusahaan mempunyai persediaan barang B sebanyak 3.500 unit. Hasil dari beberapa kali pembelian dengan harga berbeda-beda. Pada bulan yang sama perusahaan membeli lagi sebanyak 500 unit, dengan harga pembelian yang baru. Sehingga total tersedia untuk dijual sebanyak 4000 unit. Karena ada penjualan sebanyak 2000 unit, barang B ini dikeluarkan dari persediaan dan dikirim ke pelanggan. sisa persediaan 1500 unit.

Sekarang masalahnya adalah pembebanan biaya barang B ini sebagai Harga Pokok Penjualan (PRODUK). Rumusnya jelas yaitu 2000 unit (jumlah yang dijual) dikalikan harga per unit. Bagaimana menentukan harga yang akan dipakai ini, mengingat dari pembelian sebelumnya harganya bermacam-macam. Prinsip akuntansi pada Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP):

  1. FIFO (First in First OUT), artinya barang yang pertama masuk, dikeluarkan terlebih dahulu. Jadi nilai barang yang dijual dihitung berdasarkan urutan yang pertama masuk.
  2. LIFO (Last in Last OUT) , di sini barang yang terakhir masuk, dikeluarkan terlebih dahulu pada waktu ada penjualan.
  3. RATA-RATA (Average). Barang di persediaan dihitung harga rata-rata setiap ada pembelian. Harga rata-rata ini yang menjadi harga jual saat barang keluar.

Prinsip Fifo, Lifo dan Rata-Rata

Menjelaskan prinsip FIFO, LIFO, dan RATA-RATA kita menggunakan gambaran seperti di bawah ini, Dan untuk penyederhanaan kita menggunakan contoh dengan dua harga pembelian yang berbeda.

penjelasan:

FIFO : Barang B yang dijual berjumlah 6 unit. Untuk 5 unit pertama menggunakan harga M yaitu seluruh barang B yang dibeli pertama. Berikutnya karena stok pembelian pertama sudah habis, maka di ambil dari barang B yang dibeli kemudian sebanyak 1 unit yang harganya H.

Jadi perhitungan Harga Pokok Penjualan – HPP = SM + 1H

LIFO : Disini yang dikeluarkan terlebih dahulu ialah dari pembelian terakhih dengan harga H. Jumlahnya 4 unit. Kekurangannya 2 unit diambil dari stok pembelian pertama

Perhitungan harga poko penjualan – HPP = 4M + 2K

RATA-RATA : Pertama dihitung terlebih dahulu harga rata-rata per unit dari seluruh persediaan sebanyak 9 unit. Harga rata-rata tersebut = (5M + 4H)/9.

Dengan demikian HPP untuk 6 unit ialah = 6x Harga Rata-rata.

Pemilihan sistem harga mana yang dipilih umumnya bergantung jenis indudtrinya. Dalam kondisi di mana fluktuasi harga sangat besar di industrinya, maka pilihan FIFO atau LIFO digunakan prinsip harga RATA-RATA. Bila kita membaca Laporan Laba Rugi, maka Harga Pokok Penjualan yang dilaporkan akan mengikuti salah satu prinsip terebut di atas. Sebagai pembaca, kita tidak perlu direpotkan mengenai mekanisme perhitungan yang rumit tersebut. Biarlah bagian akuntansi yang menghitung HPP ini. Yang kita perlu tahu adalah latar belakang perhitungan dan prinsip yang digunakan.

Isu Pada Laporan Harga Pokok Penjualan

Sudah umum diketahui bahwa kesukaran bagian akuntansi dalam membuat Laporan Harga Pokok Penjualan bukan pada sistem dan prosedur akuntansinya, tetapi pada mendapatkan data transaksi mutasi barang yang akurat dan tepat waktu pada perusahaan dengan varian produk hanya 2 atau 3 dan jumlah transaksi harian juga sekitar 1 atau 2, bukan meruoakan problem. Problem muncul pada perusahaan dengan multivarian produk dan jumlah transaksi yang banyak. Dua barang yang sama dengan fitur berbeda yang berakibat pada harga berbeda, dapat terjadi sering keliru dalam dalam mengidentifikasinya, Dan ini semua adalah problem operasionalnya. Dalam kondisi menghadapi tanggal tutup buku yang sudah kritis, dan data transaksi mutasi barang belum tersedia lengkap, maka bagian akuntansi sering harus melakukan potong kompas dengan melakukan sejumlah asumsi agar laporan untuk periode ini dapat diselesaikan. Penyesuaian apa yang tercecer ini akan diselesaikan bulan berikutnya. Dan bila ini berlarut, salah satu jalan keluarnya, bagian akuntasi minta dilakukan stok opnam barang di persediaan untuk menyamakan data fisik dan data yang di laporan. Dengan demikian manajemen perusahaan perlu mengetahui ada kemungkinan terjadinya distorsi data pada Laporan Harga Pokok Penjualan. Dan distorsi ini datang dari masalah pencatatan dari sumber data. Dalam kasus ekstrem, laba yang dilaporkan ternyata dapat berubah menjadi rugi setelah dikoreksi karena masalah pencatatan di Harga Pokok Penjualan.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan pada Perusahaan Manufaktur.

Perhitungan harga pokok penjualan pada perusahaan manufaktur lebih rumit dari perusahaan dagang biasa. Pada perusahaan manufaktur barang yang dibeli ialah bahan baku (raw material). Dan di antara bahan baku dan barang jadi terdapat proses produksi yang mengonversi bahan baku menjadi barang jadi. Perhitungan harga pokok pada waktu bahan baku masuk ke proses produksi. Tahap ke-2 ialah pada proses konversi bahan baku menjadi barang jadi. Dan tahap ke-3 ialah barang jadi dari persediaan ke penjualan.

Ketiga tahap itu pada Laporan Harga Pokok Penjualan tampak sebagai berikut:

Tahap pertama dapat dilihat dari pembelian bahan baku, dan proses perhitungan harga bahan baku untuk produksi serupa dengan perhitungan HPP pada perusahaan dagang. Bedanya barang digunakan/terjual disini sama dengan bahan baku yang di gunakan produksi.

Tahap ke-2 berbeda dengan tahap 1, karena disini ada proses konversi bahan baku menjadi barang jadi terjadi di proses produksi, dimana nilai bahan baku bertambah dengan biaya produksi.

Barang Jadi = Bahan Baku ke Produksi + Biaya Produksi

Yang dimaksud dengan Biaya Produksi ialah semua biaya yang diasumsikan diperlukan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Biaya ini dapat meliputi biaya tenaga kerja, biaya energi yang digunakan, biaya bahan pembantu tambahan, pembebanan depresiasi mesin produksi, dan lain-lain. Pembebanan biaya produk ini spesifik menurut jenis industrinya, mulai dari yang sederhana hingga kompleks. Pada industri yang sederhana, proses konversi hanya satu tahap, tetapi pada yang kompleks dapat beberapa tahap dan penggabungan dari beberapa sumber baku dengan proses awal yang berbeda.

Pada tahap ke-3 maka proses perhitungan HPP pada perusahaan dagang. Di mana barang Jadi dari produksi yang masuk ke persediaan identik dengan pembelian pada perusahaan dagang.

Isu Harga Pokok Penjualan pada Perusahaan Manufaktur

Jelas perhitungan harga pokok ini jauh lebih kompleks dari perusahaan dagang. Akibatnya kemungkinan terjadinya problem pada perhitungan ini juga jauh lebih besar. Karena itu pada perusahaan manufaktur ada beberapa isu yang dapat menjadi catatan:

  1. Persediaan di neraca, dipisah antara akun persediaan bahan baku (raw material) dan akun persediaan barang jadi (finished good). Bila proses produksinya panjang. maka barang yang masih dalam proses produksi juga dicatat sebagai persediaan dan disebut sebagai persediaan barang dalam proses (Work In Process, di singkat dengan WIP)
  2. Besarnya biaya produksi barang jadi dari persediaan barang jadi yang dijual, juga perubahan melalui tiga tahap. Pertama pada waktu masuk produksi biaya bahan mentah disebabkan oleh variasi harga beli. Dan pembebanannya mengikuti metode FIFO, LIFO, atau Rata-Rata. Kemudian biaya produksi itu juga dapat bervariasi karena berbagai faktor. Kemudian waktu dijual karena harga barang jadi bervariasi bergantung kembali pada sistem pembebanan FIFO, LIFO, atau Rata-rata. Karena itu beberapa perusahaan menyederhanakan dengan menggunakan harga standar untuk harga barang jadi yang digunakan sebagai pembebanan. Akibat pendekatan ini, setiap bulan akan terjadi selisih antara hasil aktual dan harga standar yang di sebut dengan varians dan nanti akan diperhitungkan kembali pada akhir tahun buku.
  3. Pada beberapa perusahaan yang memerlukan ketelitian yang lebih tinggi pada biaya barang jadi mendekati “actual cost” -nya menggunakan sistem pembebanan yang lebih rinci. Disiplin untuk menghitung pembebanan ini disebut dengan “Cost Accounting”. Suatu disiplin yang memerlukan studi tersendiri.
  4. Inget perhitungan pembebanan biaya barang jadi tidak sama dengan istilah costing yang kita kenal. Yang pertama ialah mencari harga aktual berdasarkan data historis. Sedangkan yang kedua ialah mengestimasi barang produk untuk tambah dengan laba menjadi harga jual. Di sini digunakan sejumlah asumsi dan tentunya data historis dapat digunakan untuk membuat aumsi ini.

Catatan Pada Harga Pokok Penjualan

Besarnya Penjualan dikurangi Harga Pokok Penjualan (Cost of Good Sold – COGS) disebut sebagai Laba Kotor (Gross Profit – GP). % Laba kotor terhadap Penjualan merupakan ukuran kinerja dari bisnis perusahaan yang tergantung pada jenis industrinya, mata rantai pemasok dan efisiensi kerja perusahaan.

Pembebanan Biaya Operasi

BIAYA pada Laporan Laba Rugi ialah pembebanan biaya operasi. Nama standarnya ialah Biaya Operasi (Operating Expense) atau ada juga menyebut sebagai Beban Usaha. Seperti namanya, maka ia merupakan semua biaya yang diperlukan menjalankan operasi perusahaan dan umumnya tidak terkait secara langsung dengan penjualan. Pembayaran gaji karyawan bulanan, membayar sewa kantor, membayar rekening listrik adalah beberapa contoh dari biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan yang relatif tidak bergantung pada besarnya penjualan. Manajemen perusahaan umumnya merencanakan dan mengontrol biaya operasi ini, karena ia merupakan beban yang mempengaruhi besarnya laba.

Salah satu cara yang digunakan untuk merencanakan dan mengendalikan biaya operasi ialah dengan mengklasifikasikan item biaya, seperti gaji (payroll), utilitas, dan seterusnya. Pada perusahaan yang berskala menengah besar, selain klasifikasi item biaya, juga dilakukan pengelompokan berdasarkan fungsi operasinya. Kita mengenal Biaya Marketing & Penjualan, Biaya Administrasi dan Umum, sebagai contoh.

Ada empat kemungkinan dari pembebanan biaya operasi yang dicatat Laporan Laba rugi:

  1. Pembebanan biaya operasi dapat dilakukan bersamaan dengan pembayaran (tunai). Jadi pada waktu transaksi ini terjadi, selain di catat sebagai biaya pada Laporan Laba Rugi, ia juga akan mengurangi kas di neraca.
  2. Selain ini ada juga pembebanan biaya yang pembayaran sudah dilakukan pada periode sebelumnya.
  3. Tetapi dapat juga biaya sudah dibebankan, tetapi pembayaran belum dilakukan pada periode ini. Prinsip ini sama dengan pembebanan akrual.
  4. Dan satu lagi pembebanan yang tidak berkaitan dengan transaksi yaitu pembebanan penyusutan,

Ketiga transaksi-transaksi di luar tunai tersebut yaitu pembebanan penyusutan, pembebanan dari pembayaran dimuka akan di jelaskan lebih lanjut. Dan transaksi ini berkaitan dengan akun lainnya di neraca di luar kas.

Pembebanan Biaya Dibayar di Muka

Sebelum kita mulai dengan pembahasan mengenai pembenahan biaya dibayar di muka, baik untuk melihat kembali pengertian sistem akuntansi berbasis kas dan berbasis akrual. Pembahasan kita kali ini akan lebih menekankan pada basis akrual dan “matching principle”. Karena kedua prinsip ini akan berlaku pada biaya dibayar di muka.

Dalam praktik sehari-hari, sering kali perusahaan perlu untuk membayar biaya untuk beberapa periode sekaligus. Yang sering terjadi misalnya pembayaran asuransi dan sewa yang biasanya dilakukan untuk periode satu tahun atau lebih. Untuk membantu penjelasan konsep pembayaran di muka ini, kita akan menggunakan contoh yang digunakan pada bab sebelumnya. Contoh disini ialah PT Bersih menyewa ruko selama tiga tahun dan membayar di muka. Transaksi di neraca sebelumnya dan sesudah transaksi tersebut digambarkan kembali.

Ruko tersebut baru digunakan pada bulan Januari tahun berikutnya (tahun 01). Dengan demikian pada bulan Desember/00 belum ada pembebanan biaya sewa di Laporan Laba Rugi perusahaan. Di sini berlaku prinsip akuntansi ber-basis akrual, di mana belum dilakukan pembebanan pada Laporan Laba Rugi, tetapi uang sewa ini dicatat di neraca sebagai uang muka sewa.

Pertanyaannya, bagaimana sewa ruko ini dibebankan pada Laporan Laba Rugi setelah ruko tersebut digunakan atau beroperasi? Di sini berlaku “matching principle”, di mana pembebanan dilakukan sesuai dengan operasinya

  1. Pertama, sewa ruko selama tiga tahun ini akan dibebankan secara proposional setiap tahunnya harga sewa ruko dibagi tiga tahun. Atau Rp300 dibagi 3, jadi setiap tahunnya senilai Rp100.
  2. Kedua, beban biaya tahunan tersebut dibagi lebih lanjut per bulan, yaitu Rp100 dibagi 12. Dengan demikian pembebanan biaya sewa per bulannya Rp19,4

Pada bulan Januari, Laporan Laba Rugi perusahaan akan menunjukan biaya sewa sebesar Rp19,4 per bulan dan untuk satu tahun sebesar Rp100. Pada waktu dilakukan pembebanan ini, maka saldo sewa dibayar di muka pada neraca perusahaan akan berkurang dengan nilai yang sama besar. Proses yang sama terjadi pada bulan-bulan berikutnya sampai saldo sewa dibayar di muka pada neraca perusahaan pada akhir bulan Des/03 akan menjadi Rp0.

  1. Pada tanggal 31 Desember 00, neraca pada aset lancar menunjukan ada akun sewa bayar di muka sebesar Rp300. Pencatatan ini adalah hasil transaksi perusahaan dengan penyewa ruko. Pada saat ini ruko belum digunakan. Untuk memudahkan mengikuti langkah selanjutnya, pada gambar akun di bagi 3 yang menunjukan besaran per tahun (Rp100).
  2. Pada aktivitas operasi periode tahun 01, maka pada Laporan Laba Rugi ada pembebanan biaya operasi biaya sewa ruko untuk satu tahun. Ini yang dimaksud dengan “matching principle”. Maksud pembebanan ini sesuai dengan periode operasi di mana pendapatan diperoleh dalam tahun 01.
  3. Yang menjadi perhatian kita adalah perubahan di neraca di akhir periode tahun 01. Sewa dibayar di muka berkurang 1 tahun. Berarti neraca masih mencatat biaya sewa dibayar di muka untuk dua tahun. Karena kita sudah mengasumsikan untuk memperhatikan perubahan karena adanya pembebanan biaya sewa untuk satu tahun, maka agar prinsip neraca tetap seimbang karena berkurangnya aset lancar pada akun biaya dibayar di muka, maka perlu dikompensasi. Dan kita lihat, Kas di neraca bertambah (+kas) yang sama besar dengan biaya sewa satu tahun.
  4. Proses dan penjelasan serupa berulang pada tahun 02 dan tahun o3. Di mana pada akhir tahun 03, pos biaya sewa dibayar di muka telah menjadi nol.

Yang menarik perhatian kita ialah adanya penambahan + kas pada akun kas, tetapi proses ini tidak melibatkan adanya aliran arus dana masuk. Demikian pula pada waktu biaya sewa satu tahun dibebankan ke Laporan Laba Rugi, tidak ada aliran dana keluar. Proses ini akn diperjelas di bab berikutnya pada waktu kita mempelajari Laporan Arus Kas.

Penyusutan (Depresiasi)

Penyusutan atau depresiasi (depreciation) ialah pembebanan sebagai biaya pada lapora Laba Rugi, dengan mendistribusikan nilai tertentu dari suatu Harta Tetap. Pembebanan ini dilakukan karena harta tetap tersebut di gunakan untuk operasi dalam rangka mendapatkan penjualan. Nilai tertentu tersebut dihitung berdasarkan suatu metode dengan melakukan pendistribusian dalam periode sepanjang umur manfaat dari aset ini.

Transaksi pembebanan penyusutan ini tidak melibatkan aliran dana atau arus kas. Tetapi akibat dari pembebanan penyusutan pada Laporan Laba Rugi, maka nilai Harta Tetap pada neraca juga berkurang sesuai dengan besarnya akumulasi pembebanan penyusutan tersebut. Ada beberapa metode pembebanan penyusutan, seperti metode garis lurus dan metode saldo menurun ganda (double declining method)

Untuk mengilustrasikan metode depresiasi ini, kita ambil contoh suatu investasi alat angkut dengan harga beli Rp200. Umur manfaat dimisalkan empat tahun dan nilai akhir (terminal value) ialah nol. Yang dimaksud nilai akhir ialah beberapa nilai dari aset ini pada akhir umur depresiasi ini. Dalam kasus ini diambil asumsi sama dengan nol (aktualnya tentu alat angkut ini masih mempunyai nilai jual). Kita akan melihat bagai mana pembebanan depresiasi ini pada biaya di Laporan Laba-Rugi, dan perubahan nilai aset tetap di neraca.

Pada metode garis lurus pembebanan dilakukan merata untuk setiap tahunnya yaitu Rp400 dibagi 4 tahun atau Rp100 tiap tahunnya. Sedangkan pada metode menurun ganda, pembebanan untuk tahun pertama 50% dari nilai awal dan ini sama dengan Rp200, dan tahun berikutnya 50% dari nilai sisa = Rp100 dan seterusnya.

Isu pada Penyusutan (Depresiasi)

Meskipun penyusutan adalah soal hitung menghitung yang termasuk domain dari sistem akuntansi, tetapi ada beberapa asumsi dalam melakukan penghitungan ini yang perlu diketahui oleh manajemen perusahaan, antara lain:

  1. Teoretis barang yang dapat dianggap sebagai aset tetap (dan karena itu dapat dilakukan penyusutan), dilihat dari nilai manfaat minimal satu tahun. Dalam praktiknya selain dilihat juga faktor relatif dari harga barang tersebut. Dalam hal harga ini dianggap kecil, maka ia dapat dikeluarkan sebagai pembebanan biaya. Contoh kalkulator pasti berumur lebih dari satu tahun tapi harganya “hanya” Rp80.000.
  2. Masa manfaat, yaitu jumlah tahun penyusutan juga tertentu yang dibagi dalam empat kelompok. Masing-masing selama 4 tahun, 8 tahun, 16 tahun, dan 20 tahun. Peraturan perpajakan mengatur hal ini secara rinci.
  3. Pemilihan metode penyusutan tidak mempunyai ketentuan khusus (kecuali bangunan tidak boleh menggunakan saldo menurun berganda). Penentuan pemilihan ini dapat dilihat sebagai contoh berikut ini. Kendaraan angkut dalam contoh di atas, pada tahun-tahun pertama tidak memerlukan perawatan intensif. Tetapi semakin bertambah umur biaya perawatan bertambah tinggi. Karena itu dipilih metode saldo menurun berganda, supaya pembebanan biaya di laba rugi relatif konstan dari tahun ke tahun (biaya penyusutan + biaya perawatan) Bandingkan dengan komputer yang relatif tidak memerlukan perawatan, maka digunakan metode penyusutan garis lurus.
  4. Aset Tetap dapat di-revaluasi, yaitu dilakukan penilaian kembali menurut harga pasar saat itu. Ada prosedur akuntansi dan perpajakan yang harus diikuti untuk melakukan revaluasi Aset Tetap.

Hal lain yang perlu dikemukakan di sini ialah mengenai pencatatan Aset Tetap pada neraca yg belum didiskusikan pada Bab Neraca yang terkait dengan penyusutan. Sejauh ini kita mencatat harga beli Aset Tetap tersebut. Yang benar ialah nilai bersih Aset tersebut.

Pembebanan Biaya Belum Dibayar

Pembebanan biaya belum dibayar ini kebalikannya dari pembayaran di muka. Di sini biaya ini dicatat pada Laporan Laba Rugi pada bulan ini sedangkan pembayarannya dilakukan di waktu yang mendatang. Sebagai contoh perusahaan menggunakan konsultan luar selama tiga bulan berturut-turut, sedangkan pembayaran dilakukan setelah selesai yaitu pada bulan ke-4. Dengan demikian selama tiga bulan berturut-turut akan tercatat biaya konsultan, yang aktualnya biaya ini belum dibayar. Artinya pencatatan ini juga mengikuti prinsip akuntansi berbasis akrual. Contoh lain, mengenai pembayaran bonus akhir tahun. Meskipun pembayarannya akhir tahun, tetapi untuk meratakan biaya maka setiap bulan dilakukan pembebanan yang besarnya 1/12 dari estimasi bonus tahunan.

Pembayaran bonus itu sendiri baru dilakukan pada bulan Desember tahun yang sama. Pajak yang masih harus dibayar termasuk juga dalam klasifikasi biaya ini. Laporan Laba Rugi periode bulan 01 dan neraca per akhir bulan periode yang sama. Jadi pada waktu ada pembebanan biaya yang belum dibayar (atau disebut juga biaya yang masih harus dibayar -MD) pada Laporan Laba Rugi, maka di neraca pada kewajiban akan ada pos atau akun Biaya belum dibayar (MD). Transaksi ini tidak melibatkan arus kas. Tetapi pada akun kas akan ada tambahan + kas yang sama besar dengan biaya tersebut. Arus kas keluar baru akan terjadi pada waktu biaya tersebut dibayar dan pembayaran ini tidak berdampak pada Laporan Laba Rugi lagi.

Distribusi dari Laba

Sejauh ini kita melihat Laba sebagai hasil dari selisih Penjualan dengan Harga pokok Penjualan dan Biaya Operasi. Laba ini disebut juga Laba Operasi atau Laba Usaha. Terkadang di perusahaan ada pendapatan lain atau biaya lain yang tidak terkait dengan penjualan, karena itu disebut dengan Pendapatan/Biaya Lain-lain yang akan menambah atau mengurangi Laba Operasi. Sebagai contoh dari PT MY Company ada pendapatan Bunga dan Selisih Kurs. Dengan demikian Laba Operasi setelah penambahan atau pengurangan dengan Pendapatan/Biaya lain-lain disebut dengan Laba Sebelum Bunga dan Pajak (Profit Before Tax, Interest – PBIT). Dalam contoh dan diskusi di sini, kita asumsikan sama dengan nol. Laba Operasi ini juga belum tentu menjadi laba final yang menjadi bagian dari Ekuitas. Masih ada pengurangan lain berturut-turut yaitu Biaya Bunga (Interest) dan Pajak Penghasilan (Tax), untuk menjadi laba final yang menjadi bagian dari Ekuitas.

Bunga dan Pajak Penghasilan adalah beban perusahaan lainnya yang berhubungan tidak langsung dengan penjualan Biaya bunga ini mengurangi laba operasi menjadi laba sebelum pajak (Prifit Before Tax – PBT). Laba sebelum pajak (PBT) setelah dikurangi pajak penghasilan (Tax) baru disebut sebagai laba bersih (Profit After Tax – PAT), dan dicatat sebagai penambahan laba ditahan pada ekuitas. Pada modal canvas dari Laporan Laba Rugi.

Pajak Penghasilan dan Bunga

Pajak Penghasilan. Besarnya tarif pajak penghasilan ditentukan oleh Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah. Umumnya proporsional dengan besarnya laba sebelum pajak. Besarnya tarip pajak, praktis di luar kendali manajemen perusahaan.

Beban Biaya Bunga. Besarnya beban biaya bunga ini sama sekali tidak terkait langsung dengan pendapatan dan biaya. Besarnya biaya bunga ini ditentukan oleh besarnya pinjaman perusahaan pada pihak ketiga seperti tercermin pada akun Kewajiban di Neraca dan besarnya tingkat suku bunga yang dikenakan. Mencari pinjaman dengan tingkat suku bunga yang rendah merupakan aktivitas pendanaan. Sedangkan besarnya pinjaman perusahaan dari pihak ketiga dibatasi oleh dua hal. Pertama memperbesar pinjaman di satu sisi memang dapat menurunkan besarnya pajak penghasilan seperti kita lihat di atas. Di sisi lain makin besar pinjaman berarti memperbesar risiko perusahaan untuk membayar utang ini. Prinsip optimasi pada manajemen keuangan disebut dengan “Leverage”. Pada Bab 5 mengenai Kinerja Keuangan Perusahaan kita akan melihat lebih detail mengenai hubungan ini.

Bagaimana mengoptimalkan antara besarnya pinjaman perusahaan, sumber dana dengan tingkat suku bunga yang rendah, dan besarnya pajak penghasilan lebih merupakan domain manajemen keuangan. Berbeda dengan penjualan dan mendapatkan laba operasi yang menjadi domain dari manajeman dari pemasaran/penjualan operasi dan atau produksi seperti tercermin pada model bisnis perusahaan. Kebanyakan perusahaan skala kecil menengah lebih banyak bermain pada domain terakhir ini. Tetapi dengan bertumbuhnya perusahaan ke skala yang lebih besar, maka domain manajemen keuangan pun perlu mendapat perhatian.

Laba Sebagai Kinerja Keuangan

Sebagaimana telah dikemukakan pada awal, laba merupakan faktor kritis untuk mengukur keberhasilan usaha, bila tidak ingin dikatakan sebagai tujuan akhir semata. Karena itu laba merupakan suatu kinerja keuangan perusahaan. Bagaimana mengukur kinerja ini? Umumnya besaran laba dilihat sebagai persentase dari besarnya penjualan.

  1. % Laba Kotor (gross profit) = Laba Kotor dibagi Penjualan x 100%
  2. % Laba Operasi (operating profit) = Laba operasi dibagi Penjualan x 100%
  3. % Laba Sebelum Pajak (profit before tax) = Laba Sebelum Pajak dibagi Penjualan x 100%
  4. % Laba Bersih (profit after tax) = Laba Bersih dibagi Penjualan x 100%

Jadi untuk maksimalkan laba dapat dilakukan dengan dua cara. Yaitu menaikan penjualan dan menurunkan biaya-biaya yang menjadi pengurang laba.

Kinerja laba terhadap penjualan lebih merupakan domain dari manajemen operasi (termasuk pemasaran, penjualan, distribusi dan produksi).

Sebagai contoh. Untuk meningkatkan penjualan akan bergantung pada situasi kompetisi dan bagaimana perusahaan dapat lebih unggul dari persaingannya, dengan kemampuan pemasaran dan akhirnya melakukan penjualan sehingga terjadi “sales order”. Bila penjualan sudah tertentu, kemungkinan kedua adalah menurunkan biaya. Yang utama ialah biaya produk (atau harga pokok penjualan) dan kedua biaya operasi. Menurunkan biaya produk, bila perusahaan kita adalah perusahaan dagang, maka ia sangat bergantung dari mata rantai pemasok (supply chain), dan di mana posisi perusahaan pada mata rantai tersebut. Makin kehilir berarti makin mahal produk yang kita beli untuk dijual kembali. Bila kita merupakan perusahaan manufaktur, maka ia sangat bergantung dari seberapa efisiennya sistem produksi perusahaan, dan juga suplai bahan bakunya.

Sedangkan untuk menurunkan biaya operasi, maka bergantung pada seberapa efisiennya operasi perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan menggunakan sistem informasi terkomputerisasi dengan maksud mengurangi jumlah pekerja dan mempercepat proses. Kita lihat semua hal untuk memaksimalkan laba adalah domain dari manajemen operasi. Laporan keuangan hanya membantu memberikan gambaran dari operasi perusahaan yang dijalankan yang dinyatakan dalam kinerja keuangan.

Sedangkan mengenai bunga (interest) dan pajak (tax) lebih merupakan domain manajemen keuangan. Selain itu laba sebagai kinerja juga dapat dilihat dari imbalan investasi dari pemegang saham dan imbalan dari besarnya aset perusahaan.

Apa yang dapat Dimanfaatkan dan Keterbatasan Laporan Laba Rugi?

Sekali lagi, Laporan Laba Rugi, sebagaimana namanya menunjukan kinerja perusahaan untuk suatu periode tertentu. Laba adalah faktor kritis yang menjadi ukuran dan didapat dari penjualan dikurahngi dengan biaya. tetapi perlu diingat laba yang ditunjukan di sini datang dari sistem pencatatan yang mengikuti norma akuntansi. Dan ini akan jelas berbeda dengan pemasukan dan pengeluaran kas perusahaan. Karena ia merupakan sistem pencatatan sangat mungkin terjadi pencatatan yang bersifat penyesuaian, yang dapat mendekati atau menjauhi kenyataan yang sebenarnya. berikut ringkasannya:

  1. Laporan Laba Rugi bermanfaat untuk memahami kinerja (performance) perusahaan. Pada tingkat operasional internal perusahaan laporan ini memberikan gambaran yang baik jalannya perusahaan.
  2. Kinerja yang ditunjukan pada Laporan Laba Rugi mudah dibandingkan dengan laporan yang sama dari periode sebelumnya (bulanan, tahunan). Dengan demikian dapat dilihat perbandingan kinerjanya serta trennya
  3. Bila perusahaan sudah mempunyai “plan” atau bujet, maka kinerja perusahaan juga dapat dibandingkan antara rencana dan hasil (plan vs actual).
  4. Laba sebagai hasil akhir dari kinerja tidak selalu seiring dengan saldo kas di neraca.

Sumber : Financial Management Canvas

Kho Sin Hien & Fransiska Ida Mariani

0 Comments

Lewat ke baris perkakas